"Apabila kita takut akan sesuatu, maka, rasa takut kita melebihi apa yang kita takutkan sesungguhnya..."

Sabtu, 30 April 2011

hmm.

Beautiful Girl

Beautiful girl wherever you are
I knew when I saw you you had opened the door
I knew that I'd love again after a long long while
I'd love again.
You said hello and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I'd love again after a long long while
I'd love again.

Refrain : It was destiny's game
will love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whereever you are I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I've loved again after a long long while
I've loved again.

Beautiful girl I'll search on for you
'Til all of your loveliness in my arms come true
You've made me love again after a long long while
In love again
'And I'm glad that its a cute to you
'Hmm beautiful girl

Tentang Arial

25 April 2011, kita tidak sengaja berjalan beriringan menuju toilet. Kamu terkesan membuntutiku dari belakang. Namun, di tengah perjalanan, aku menegurmu mengenai perempuan itu. Kau sangat besar kepala dan menyombongkan diri atas ketenaranmu. Entah, saat mengucapkan nama perempuan itu, ada cubitan kecil yang terasa di dalam raga ini. Meskipun dengan setulus hati aku mengucapkan serangkaian kalimat itu.

26 April 2011, kau terus bersekongkol dengan mereka untuk mencemooh warna kulit dan kesempurnaan fisikku. Tapi, rasa sakitku beralih menjadi kegembiraan saat nama adikmu tertulis di dinding situs jejaring sosialku. Dia menganggapku sebagai kakaknya! Sungguh, aku merasa diistimewakan olehnya. Diapun mengajakku berkunjung ke rumahmu. Sungguh, adikmu telah mencuri simpatiku. Hebat benar ia.
Aku berharap kau segera menatapku. Semoga :)

27 April 2011, terima kasih untuk hari ini. Kau terus menerus memberiku motivasi. Muali dari masa depanku, hingga masalah kesempurnaan fisikku. Kau bilang agar aku percaya diri dengan warna kulitku, karena aku eksotis. Kau bilang hanya akulah yang berbeda di antara semua yang sama. Kalimatmu membuatku nyaman di sampingku. Terima kasih telah menganggapku berbeda. Terima kasih atas sanjunganmu.

Terima kasih telah meyakinkanku untuk menjadi yang terbaik sesuai kemampuan dan kehendakku. Terima kasih atas terbukanya mata hatiku olehmu, yang telah menyemangatiku untuk menjadi kebanggaan. Kau membuatku teristimewa hari ini. Terima kasih telah menjadi penenang dan penyejuk di antara semua kegelisahanku.
Terima kasih telah membuatku semakin mengagumimu :)

29 April 2011, banyak kejutan kecil muncul yang hadir dalam hidupku  setelah ada kau dan adikmu. Tentang kamu yang meluruskan cara pandangku, dan adikmu yang terus menerus memancingku. Ya, memancingku untuk bersikap dewasa dan 'beralih' padamu. Entah, aku tak tahu mengapa tata bahasaku acakadut seperti ini. Mungkin karena kamu sedang duduk di sampingku. :">
Adikmu pernah bertanya kepadaku mengenai masa depanku. Tanpa aku prediksikan sebelumnya, ia mengusulkan universitas yang sama seperti yang kau ingini. Mataku terbelalak saat membaca pertanyaan itu. Aku tidak tahu apakah adikmu sengaja atau tidak. Dan akupun tak percaya adikmu bisa secepat dan seobyektif itu menilai perasaanku. Mungkin itu hanya kebetulan semata :)

Jumat, 29 April 2011

Is It Real?

Arial : "Ya ampun, kamu repot banget. Aku tahu kamu bawain makanan ini buat aku kok."
Najwa : "Haha. Kamu mau? Ambil aja gapapa."
Arial : "Oiya aku lupa. Besok aku gak bisa kerja kelompok. Ada tes AFS. Bilangin Oca ya."
Najwa : "Yaaaah, Arial nggak seruu ah!"
Arial : "Ya mau gimana lagi loh?"
Najwa : "Bahannya ada di kamu ya?"
Arial : "Iya."
Najwa : "Ya udah, ntar aku sama Oca usahain deh. Oiya, Rial, C itu siapa?"
Arial : "Hahahaha.Ada deh."
Najwa : "Hayoooo. Ih, salting, ih! Pipimu merah tuh."
Arial : "Sebenernya aku lagi pendekatan nih. Jangan bilang siapa- siapa ya."
Najwa : "Eciyeeeh! Cemunguudh ya! Pejenya jangan lupa yaa kalo udah jadian."



Selasa, 26 April 2011

Lucky Day (?)

I don't know how should I express my happiness. It was April, 23rd, 2011. And because of an school event, I met him and we're become partner in a group. 

I don't know how should I say about it. It's just an ordinary posibilities or that was my real-lucky day. 

But, I realized, that he was starting call me with my real name. And I felt so honored :)

Minggu, 24 April 2011

Memory of Us

"Backstreet boys, allright!"

"Wes kuat ora melu latihan? Lek sek loro istirahato ae."  

The pyramid

"We're all in this together..." 

"Wildcats, every where, makes your hands up till the end..." 

*aku gak tau mereka ngomongin apa -,-

I seldom join their chat :p

"Piye yo iki enake?" 

"Wes, wes, pegel aku ngerasakno. Turu ae!"

 

Do you still remember it?
When we made our time together,
When we shared our stories,
When we cried if we get our problems,
When we realized if we are #AsetSmala...
:'D

Jumat, 22 April 2011

Arial

Arial. Begitulah aku menyebutnya. Entah kenapa yang terlintas di benakku adalah nama itu. Saat aku ingin memberi nama fiksi padanya.
Kurang lebih satu tahun yang lalu, aku dipertemukan dengannya dalam suatu kesempatan. Takdir itulah yang mengharuskanku bertatap muka dengannya setiap hari. Bahkan, lebih intens akhir- akhir ini.
Dia hadir di saat yang tepat. Menggantikan orang terdahulu, yang memang ingin kuhapus bayangnya. Tanpa sadar dan berpikir panjang, akupun menjatuhkan pilihan padanya. Sebagai orang yang tepat untuk mempersembahkan hati ini. Berharap agar ia tahu, dan menjaganya, dengan ketulusan dan rasa yang sama.
Lambat laun, aku menyadari perbedaan akan rasa ini. Bukan sebagai teman biasa. Aku mencurahkan pikiranku untuk tertuju padanya. Kapanpun, Di manapun. Bahkan, saat aku menghadapi setumpuk rumus eksak yang harus kuhafal dalam waktu semalam. Yang terbayang hanya nama, senyum, dan ucapannya padaku.
Aku tak menyadari bahwa rasa ini salah. Cinta itu fitrah, dan tak ada yang bisa disalahkan saat kita mencintai seseorang. Itu yang selalu terngiang di telingaku, dan menggema memasuki syaraf dan tersimpan di memori otakku. Sebagaimana halnya dia. Aku perempuan, dan dia laki- laki, tidak ada salahnya aku menyukainya  dan berharap lebih. Itu prinsipku.
Kekagumanku semakin bertambah padanya saat aku mengetahui seberapa tinggi ilmu agamanya. Ia mampu menyelaraskan dengan kehidupan duniawinya dengan sangat baik. Diapun tidak sombong meskipun berasal dari keluarga berada. Dia tak segan mengantarkanku pulang meskipun hujan deras tengah mengguyur. Dia tak segan melindungiku dari air hujan dan bahaya malam yang mengancam. Aku memberi nilai lebih, atas rasaku untuknya.
Arial, entah sosok fiksi itu menjadi nyata. Atau dia memang benar- benar ada, dan aku memandangnya sebagai tambatan hati dalam goresan kisah hidupku? Tuhan, ampuni aku. Aku tak dapat menjadi manusia sempurna yang bisa menjaga pandangannya dan menundukkan perasaannya. Aku hanya mohon padamu, jauhkanlah aku dari rasa sakit yang menyayat dan pilu, saat tangisku pecah melihat ia bahagia dengan perempuan pilihannya.

22.04.2011
. nadnoph.

Rabu, 20 April 2011

Romantic 4 Seasons Series by Ilana Tan






Entri ini terinspirasi oleh novel Metropop karya Ilana Tan yang baru saja selesai saya baca beberapa hari yang lalu. Sungguh, ceritanya sangat menyentuh dan mudah membuat melting siapapun yang membacanya. 

Berawal dari kisah Summer in Seoul, ada Jung Tae-Woo dan Han Soon-Hee yang jatuh cinta karena ketidak sengajaan. Hp mereka tertukar, dan mereka pura- pura berpacaran untuk menghindari gosip gay yang dialami Jung Tae-Woo sebagai penyanyi terkenal. Mereka merasakan benih- benih cinta tumbuh di antara mereka setelah kasus meninggalnya Lisa, kakak Sandy (Han Soon-Hee) terkuak ke permukaan lagi atas ulah fans Jung Tae-Woo. Akibatnya, orang tua Sandy tidak merestui kedekatan mereka. Namun, setelah Tae-Woo berhasil meyakinkan bahwa bukanlah dia penyebab kematian Lisa, orang tua Sandy pun luluh.

Cerita kedua, Autumn in Paris, di mana Tara Dupont, sepupu Sandy sebagai tokoh utama. Ia bertemu dengan Tatsuya Fujisawa setelah dikenalkan oleh Sebastien Giraudeau, sahabatnya. Namun, konflik mulai terjadi saat Tatsuya dan Tara menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tara dan Tatsuya merupakan saudara kandung! Ayah mereka, Jean Danielle Lemercier pernah berhubungan dengan Sanae Nakata, ibu Tatsuya, namun tidak mengerti bahwa Sanae hamil. Saat Tatsuya berkunjung ke Paris dan bertemu Tara, di saat itulah Tatsuya menemui Jean Danielle Lemercier (yang berganti nama menjadi Jean Danielle Dupont), untuk membeberkan fakta yang selama ini ditutupi oleh ibunya. Namun, nasib memang naas bagi Tara dan Tatsuya, belum lagi mereka bisa menerima kenyataan sebagai saudara, Tatsuya meninggal karena kecelakaan kerja di Tokyo. 

Di seri ketiga, mengulas tentang kisah Ishida Keiko, tetangga satu apartemen Tatsuya yang memiliki tetangga baru yang menempati bekas apartemen Tatsuya. Namanya Nishimura Kazuto. Dalam novel ini, konflik yang dihadirkan cukup pelik. Kazuto kehilangan ingatannya karena ulah sepupu Kitano Akira, sahabat kecilnya, yang dianggap Keiko sebagai cinta pertamanya. Dan parahnya, ingatan Kazuto yang terhapus adalah ketika ia bersama Keiko dan menyadari bahwa Keikolah tambatan hatinya. Di saat yang tidak tepat inilah, Iwamoto Yuri, mantan kekasih Kazuto hadir. Tapi, akhir kisah mereka berakhir bahagia. Kazuto kembali mengingat hari- hari bahagianya bersama Keiko yang pernah hilang dari memorinya. 

Dan di novel pamungkas, Spring in London, menceritakan Naomi Ishida, saudara kembar Keiko. Ia dipertemukan dengan Danny Jo dalam video klip Jung Tae-Woo. Awalnya, Naomi merasa tidak nyaman dan terkesan menjauhi Danny Jo. Namun kelamaan, ia menyadari bahwa Danny Jo tidak seharusnya ia benci, malah Danny lah laki- laki pertama yang menghapus ketakutan dengan masa lalunya. Di saat itu, datanglah Miho, sahabat Naomi yang dijodohkan oleh Danny Jo. Miho mencintai Danny, namun tidak dengan Danny. Hanya Naomilah yang ada di hatinya. Konflik hadir saat Dong-Min, teman kakak Danny, Jo Seung-Ho tiba- tiba hadir di tengah kehidupan mereka. Dan menyeruak fakta mencengangkan mengenai Naomi yang berkaitan dengan almarhum Jo Seung-Ho. Setelah berpisah 2 tahun, Naomi dan Danny bertemu kembali dan telah bersedia membuka hati mereka untuk hal yang baru.

Ada kesamaan antara 4 novel tersebut. Tokoh yang dihadirkan satu sama lain saling berkaitan. Entah itu saudara, teman atau tetangga. Kemudian, konflik yang timbul dihadirkan saat tokoh- tokohnya menyadari bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi dan membutuhkan satu sama lain. Dan yang terpenting. Cinta dalam hati tokoh- tokoh tersebut muncul karena telah terbiasa bersama. 

Mau tahu kisah selengkapnya? Silahkan beli di toko buku terdekat. Telah dijual dalam 1 series box dengan harga ekonomis. Rasakan sensasi menghanyutkan dalam novel- novel tersebut. Novel pertama dan kedua sangat laris, hingga Cetakan Kesepuluh pada tahun 2010 lalu. Keren kan?!

NB : INI BUKAN REBLOGGED DAN BUKAN PROMOSI :D 

Kepergianmu (Cerpen B.Ind oleh saya dan Bida)



“Makasih ya udah dianterin buat ke sekian kalinya…” ujar Najwa sambil tertawa polos.
“Iya, gapapa. Hati- hati ya nyebrangnya.” sahut Arial sambil menoleh ke arah Najwa.
“Iya, maaf ngerepotin loh ya…”
No problem, girl! Duluan yaa!”
Arial berpamitan kepada Najwa seraya memacu motornya untuk kembali ke rumahnya. Najwa masih berdiri terdiam di tempat Arial menurunkannya tadi. Jalanan malam ini sangat ramai. Najwapun harus berhenti sejenak di tepi sebelum menyeberang jalan menuju rumahnya.

Kuiiringi langkahmu, Sampai ke akhir jalan…
Sungguh berat terasa, Menyadari semua…

Jam di dinding menunjukkan pukul 22.30 WIB, Najwa belum tidur karena masih ada tugas  yang harus ia selesaikan.
“Sayang, sudah larut malam. Kamu kok belum tidur?” tanya Ayah Najwa sampai membuatnya berjingkat.
“Hah? Oh, ini Yah, Masih ada tugas buat besok. Tinggal dikit kok Yah.” sahut Najwa dengan sedikit panik.
“Oh, ya sudah kalo gitu. Ayah tidur duluan ya sayang. Selamat malam.”
Kalimat terakhir Ayahnya  tak ia hiraukan. Najwa kembali berkutat dengan setumpuk tugas fisika yang jumlahnya mencapai 10 lembar. Najwa sedikit memaksakan diri.

* * *

Inalillahi wa inailaihi roji’un. Telah meninggal salah seorang siswa dari kelas XI IA 2 yang bernama Arial Surya Hutama pada pukul 02.00 WIB dini hari kemarin. Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk berdoa. Semoga arwah ananda Arial diterima di sisi Allah SWT…”
Begitu suara yang Najwa dengar dari interkom kelas. Ia terduduk lesu dengan pandangan kosong. Arial meninggal dunia! Orang yang kemarin baru saja memboncengnya pulang! Teman- temannya yang lain pun demikian, saling berpelukan dan menangis. Mereka sangat shock mendengar berita tersebut.
Merekapun bertakziah ke rumah Arial. Benar saja, di depan kompleks perumahan Arial telah terpampang berderet- deret rangkaian bunga ucapan belasungkawa dari rekan kerja dan kolega Papa Arial. Papa Arial adalah salah seorang pejabat bank daerah di kota mereka. Jadi tak aneh jika puluhan rangkaian bunga itu menyesaki jalanan itu.
Najwa meneteskan air mata saat melihat wajah Arial yang putih pucat itu. Najwa benar- benar tak menyangka akan hal ini. Oca sahabatnya, spontan memeluknya dan mendudukkannya melihat ia goyah seperti itu.

Di saat terakhirku, Menatap wajah itu…
Terpejam kedua mata, Dan terbang selamanya…

* * *

“Najwa! Bangun, sayang! Ini sudah jam setengah enam!” suara Ayah Najwa terdengar membahana di hadapan Najwa. Ia pun sejenak membuka mata dan mengucek- uceknya.
“Najwa, kamu mau telat ke sekolah? Lihat ini sudah jam berapa!” kata Ayah Najwa sambil menyodorkan jam beker ke depan muka Najwa.
Astagfirullah hal adzim! Aku ketiduran, tugasku belum selesai! Gimana iniiiiii!” Najwa berteriak seperti orang kebakaran jenggot.
Sekolah akan dimulai satu jam lagi. Sedangkan, ia baru saja terbangun dan belum menyiapkan apapun. Bahkan belum mandi!
Najwa bergegas menyambar handuk dan seragam sekolahnya kemudian berlari ke kamar mandi tanpa mendengarkan ‘ceramah pagi’ Ayahnya. Tak sampai 10 menit, iapun telah berganti pakaian dan bersih. Setelah meletakkan handuk ke jemuran di balkon kamar, Najwa mematut dirinya di cermin sambil mengenakan sabuk. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum sebanyak yang bisa keluar dari botol itu.
Dengan tergesa- gesa, Najwa menyiapkan buku pelajarannya dan tugas fisika (meski belum selesai) yang sudah susah payah ia kerjakan. Dengan tergopoh- gopoh ia menuruni tangga. Sampai di meja makan, ia menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. Najwa duduk sejenak untuk mengunyahnya dan minum segelas susu yang memang dibuatkan untuknya.
“Bik, aku bekalnya double porsi ya. Aku gak sempat makan banyak nih, Bik.”
“Iya, Non…” sahut Bik Inah dari balik dapur.
“Habisin dulu susunya, sayang. Biar perutmu gak kosong.” kata Ibu Najwa dengan bijaksana.
Klakson mobil antar jemput Najwa telah terdengar. Ia mengambil kotak makannya yang baru saja disiapkan bibi. Ia pun berpamitan pada Ayah dan Ibunya sebelum meninggalkan rumah.

* * *

“Pagi Najwa! Tumben banget pagi- pagi udah makan?” suara laki- laki berhasil mengacaukan konsentrasi makan Najwa. Sendok yang ia pegang pun terjatuh.
“Aduh! Bikin kaget aja sih! Usil banget pake megang pundak dari belakang pula!” Najwa memaki laki- laki tadi.
Najwa mengernyitkan dahi keheranan. Bertanya- tanya dalam batinnya.
Arial? Masih hidup? Berartiii… Semalem itu cuma mimpi dong!
Najwapun menafsirkan apa yang ia lihat saat itu berarti mimpi belaka. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat bersyukur karena masih bisa melihat wajah tampan Arial lagi. Fiuuhhh… Alhamdulillah.
“Eh, Arial ternyata! Iya niih, aku tadi bangun kesiangan, jadi gak sempet sarapan deh.” sahut Najwa dengan semangat, rasa kesalnya telah terabaikan.
“Ooohhh… Ini apa pula? Buku fisika berantakan di mana- mana. Cewek kok jorok banget sih kamu Naj!” Arial keheranan melihat bangku Najwa yang penuh dengan kertas- kertas dan buku berisi soal- soal fisika yang belum ia selesaikan semalam.
“Hehehe, aku belum ngerjain tugas fisika, Rial. Mau ngajarin aku nggak? Aku gak tau rumusnya nih.” Najwa tertawa datar menjawab teguran Arial, sekaligus meminta bantuan Arial untuk menyelesaikan tugasnya.
“Yang mana yang gak bisa? Aku bantuin deh, mumpung lagi nganggur.” jawab Arial yang membuat hati Najwa berbunga dan semakin bersemangat.
“ Yeeee! Makasih Arial! Ini nih. Nomer 3 yang romawi II, pake cara yang mana?”
“ Oh, ini… Ini caranya…………” suara Arial semakin samar. Tak sadar, Najwa kini memandangi wajah Arial lekat- lekat.
Bunyi ringtone handphone membuyarkan lamunan Najwa. Ternyata, itu bunyi nada sms dari hp Arial. Najwa berpura- pura memperhatikan kertas berisi coretan rumus- rumus Arial. Secara tidak langsung, Najwa telah menyuruh Arial mengerjakan sendiri tugasnya.
“ Aduuh, maaf banget ya Naj, Aku dapet sms buat rapat OSIS nih Naj…”
“ Yaaah, Arial” Najwa memasang muka cemberut mendengar berita tersebut.
“ Sabar yah! Daaa Najwa…” sebelum Arial berlalu meninggalkan Najwa, ia spontan mengacak- acak rambut Najwa. Perlakuan tersebut membuat Najwa merasa diistimewakan oleh Arial.

Inginku mengejar dirimu, Menggenggam erat tanganmu…
Sungguhku tak rela…

* * *

“ Oca, aku pengen cerita nih…” ujar Najwa pada Oca saat mereka makan bersama di kantin.
“ Cerita aja, aku dengerin kok.”
“ Belakangan ini aku ngerasa ada yang aneh sama perasaanku ke Arial… Gak tau kenapa.”
Oca tersedak, ia segera memegang gelas es jeruk di hadapannya dan langsung meneguknya.
“ Uhuk… Uhuuuk… Jangan bilang kamu suka sama dia?!” nafas Oca masih tersengal- sengal.
“ Aku gak bisa bilang enggak, Ca…”
What?! Setelah apa yang kamu perbuat selama ini? Setelah Arial dan Nia jadian karena kamu comblangin?”
“ Aku gak tau Ocaaaa… Aku masih bingung sama perasaanku sendiri!”
“ Najwa, inget! Nia itu sahabat kamu sendiri! Kamu udah susah payah meyakinkan dia untuk nerima Arial. Kalo kamu ngomong hal ini secara langsung ke dia, apa kamu yakin Nia gak akan nelangsa?”
Najwa hanya terdiam, mendengarkan komentar Oca, yang ia kenal lebih berpengalaman dalam hal cinta.
“ Nia udah menghargai kamu dengan belajar mencintai Arial apa adanya. Apa kamu gak akan merasa bersalah menghancurkan harapan yang sekarang mereka rajut?”
“ Aku gak bermaksud seperti itu, Oca!” aku membela diri.
Hey girls! Pada makan gak ngajak- ngajak nih…” Najwa dan Oca dikejutkan oleh sapaan Arial. Pembicaraan mereka otomatis terhenti.
“ Arial ini hobi bikin orang jantungan deh! Huh! Cuppikk!” ujar Oca sekenanya.
“ Iya nih…” sahut Najwa lesu.
Rupanya Arial menyadari perubahan sikap Najwa padanya. Arial penasaran kenapa Najwa bisa menjadi demikian.
“ Najwa kenapa? Kok belakangan ini kamu kelihatan sering galau ya?”
“ Ahh… Gak kok, Rial. Sok tau deh kamu!” Najwa berusaha mengelak.
“ Alaaah… Gak usah bohong! Kamu jadi sering dengerin lagu- lagu mellow kan? Kamu kan pernah bilang, kalo salah satu tanda orang galau itu suka dengerin soundtrack patah hati gituu…” Arial berhasil men-skak mat Najwa.
“ Gak papaaa Ariaaaal… Aku Cuma pengen bermelankolis ria doang kok. Tenang aja.”
“ Oke, aku ngalah. Tapi jangan lupa cerita ya kalo ada yang ngganjel. Kita bertiga ini temen deket, gak usah ada rahasia- rahasiaan. Kalo ada salah satu sedih, pasti yang lain ikutan sedih. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” jelas Arial panjang lebar lantas tersenyum.
Senyum itu… Senyum yang meluluhkan dinding pertahanan hati Najwa. Meskipun ia telah memahat tebing curam untuk membatasi dirinya dan Arial. Senyum yang membuat Najwa bisa melupakan orang terdahulu yang membuatnya sakit dan rapuh. Senyum yang menguatkan Najwa saat ia sedang tak bersemangat, tak bisa memegang kendali.
“ Duluan ya Naj, Ca!”
“ Mau ke mana, Rial?” tanya Oca
“ Mau njemput Nia nih. Dia minta ditemenin beli kado buat temennya yang ulang tahun. Bye!” Arial berdiri, menyandang tas ranselnya, dan berjalan menjauhi mereka.
“ Daaa… Hati- hati di jalan ya, Rial!” ucap Najwa dan Oca hampir bersamaan.
“ Tenang, Naj! Arial masih menghargai kamu kok. Buktinya dia turut sedih kalo kamu galau. Sabar ya! Nangisnya entar malem aja, Kalo mau tidur…” Oca membesarkan hati Najwa.

Kutahu kau tak tersenyum, Melihatku menangis…
Maka sekuat tenagaku, Kurelakan saat kepergianmu…

* * *

Sampai pada sore itu, Najwa menemani Arial dan Nia di kedai es krim ternama. Mereka mengobrolkan apa saja, tentang bagaimana Arial begitu suka dengan Nia dan Nia yang akhirnya mengenal Arial. Tapi seonggok rasa aneh itu menyergap Najwa tanpa ampun, memaksa matanya untuk bereaksi tidak wajar. Najwa tidak paham kenapa ia berkaca-kaca.
"Arial, Nia, aku ke belakang dulu ya. Enjoy your time."
Najwa buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan tanpa menoleh lagi ia menutupi mukanya, menahan buncahan air mata yang tak tahu diri itu. Sesampainya ia di kamar mandi, Najwa menatap kaca. Ia sendirian. Najwa melihat dirinya, ia benci. Kenapa aku menangis? Tanya Najwa dalam hati. Pertanyaan itu justru memancing air matanya keluar lebih banyak lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Namun tetap hening. Najwa tidak ingin tangisnya didengar siapapun. Setelah puas menangis, ia keluar dari kamar mandi dan bergegas mengambil tasnya di kursi tempatnya tadi.
"Eh, aku les dulu ya. Got to go, have fun you two!"
"Lho, Najwa, kok buru-buru? Lesmu kan jam 6?" tanya Nia.
"Iya nih, ayo habisin dulu es krimmu!" kata Arial.
"Umm, nope, I'm full. Lagipula aku belum ngerjain PR buat les nanti, hehe. See you guys!" tutup Najwa tanpa memberi celah Arial dan Nia untuk mencegahnya pergi lagi.

***

Sekeluarnya dari kedai itu, Najwa menangis. Ia bersembunyi di balik pohon besar yang rindang, menyembunyikannya dari siapapun. Langit sudah mulai gelap. Najwa berjongkok seperti anak kecil dan menutupi mukanya, menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini, Najwa tidak tahu. Berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya Najwa menyayangi Arial sepenuh hati, tanpa pamrih...
Najwa tidak tahu. Ngilu.

Takkan pernah, kulupakan dirimu…
Takkan sanggup, kurelakan semua…

***

 Arial tidak tahu apa yang dirasakan oleh Najwa. Arial bersama Nia hanya karena ia tidak ingin melukai dan mempersulit Najwa, karena ia tahu Najwa sangat menyayangi sahabatnya itu. Arial tidak ingin merusak persahabatan mereka. Lagipula Arial masih ingat sms terakhir Najwa untuknya yang tak sanggup ia balas :
Arial,
Aku berharap kamu bisa membahagiakannya.
Menjadi yang terbaik untuknya.
Bercandalah dengannya, bagi ceritamu dengannya seperti yang kamu lakukan padaku.
Perlakukan ia layaknya putri raja.
Jika kamu menyakiti hatinya, aku akan merusak wajahmu. Haha :P


Aset's Vacation :3 part 2

Hai, hai....! Disambung lagi yuk ceritanya yang kemarin :D

Jadi, setelah bermenggos- menggos ria bersama Mario dan Prima, kami sampai juga di bis. Dan disambut dengan sentilan nakal "Wah, waaah! Nadya ya, cewek sendiri! Habis ngapain hayoooo!" *emang gue cewek apaan cyiin. 

Pukul 17.15 WIB, rombongan kami tiba di BNS (Batu Night Spectaculer) Saya mencoba berbagai macam wahana di sana. Mulai 4D Theatre yang memuaskan, Sepeda Udara di mana saya dan Ovi bisa melihat pemandangan Batu dari atas dengan leluasa, hingga Lampion Garden tempat berfoto ria (di sini saya juga menyadari betapa sisi lain Intan dan Vira yang sangat childish).

Sungguh, liburan kali ini mengesankan! Selain bersama #AsetSmala, saya juga mendapat pengalaman untuk mengalah demi kepentingan bersama. Hal ini diakibatkan oleh ditolaknya usul saya mengenai suatu games yang bisa digunakan untuk bahan introspeksi diri. Tapi usul saya ditolak dengan alasan teman- teman sudah sangat lelah. 

Awalnya saya sempat nggerundel, tapi saya mengalah dan mengiyakan penolakan mereka. Meskipun saya telah menyiapkan kertas untuk media games tersebut dengan sepenuh hati, semalam sebelum keberangkatan. Ya sudahlah. Toh juga kekesalan saya terhapus oleh keseruan permainan geje-gejean saat perjalanan pulang.

Terima kasih juga untuk Angga, yang telah mengkoordinasi akomodasi dan berbagai kepentingan untuk Aset's Vacation kali ini. Di sela- sela kesibukannya OSIS dan les tutorial Cambridge :)

Ini dia beberapa momen yang terabadikan melalui kamera hp saya :

inside Museum Satwa


I look so slim :>

can you imagine it?

Mario and Prima

Mario and his brother =)))

Phila chan and Thathand Savierra

the beauty of the sea

the shark beside me

nemo or clown fish? 
coral : porifera

  
the Savannah creature


Selasa, 19 April 2011

Aset's Vacation :3 part 1

Senin, 18 April 2011, adalah hari yang paling ditunggu- tunggu oleh seluruh penjuru #AsetSmala. Sungguh berbalik 180 derajat dengan mbak mas #Pirates yang sedang berharap- harap cemas menanti datangnya soal UNAS. Kami sudah merencanakan ini sejak liburan USEK yang lalu. Itu karena acara menginap dan gowes bareng tertunda. Meskipun awalnya ada kendala dana dan perizinan, akhirnya kami bisa pergi dengan senyum dan tawa tersungging di bibir kita masing- masing. Dan meninggalkan 3 orang #AsetBoys yang jalan pikiran dan prinsipnya berbeda dengan kami. 

Rencana keberangkatannya mundur dari rencana awal. Yang tadinya pukul 05.30 WIB sudah berkumpul di Taman Bungkul, dan berangkat pukul 06.00 WIB tapi malah berangkat pukul 07.15 WIB -______-

Di perjalanan, #AsetGirls berhasil mengerjai saya untuk berkaraoke lagu Vierra 'Bersamamu' menggunakan microfon. Bagus, bagus! Dan nama pengawas IV MPK pun disebut- sebut hingga saya biti -3-

Pukul 10.30 WIB, kami tiba di Jatim Park 1. Begitu masuk, kami menyempatkan diri berfoto di depan gong. Setelah dek Afgan (adiknya Angga) memukul gong tanda pembukaan (y). Melewati rute pembelajaran terlebih dahulu, kami memperlihatkan antusias dengan mendekati berbagai model pembelajaran di situ. 

Sampai di zona tanaman toga, Tir menyinggung "Tuh, tanaman toga tuh, sana belajar sana! Yang katanya mau ke Teknik Lingkungan, yang mau kayak Bu Risma!" saya hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Di wahana permainan, yang pertama kali kami coba adalah Star Chase. Sangat menegangkan! Saya berteriak- teriak heboh dan tanpa terasa, air mata saya menetes! Vira bahkan menyebutkan bahwa ia membayangkan adegan 'Final Destination' berkali- kali. Wahana kedua adalah Spinning Coaster. Sama menegangkannya dengan yang pertama tapi lebih lumayan :)

Kemudian, Keraton Hantu dan Rumah Misteri 3D kami sambangi. Untuk yang ini, saya berterima kasih kepada Bend karena bersedia saya dan Astrid gandoli :D Dan lucunya, di antara ketakutan kami, Rizka masih sempat menyanyikan lagu 'Pemimpin Bangsa'! Ckckckck -,-

Berikutnya adalah Movie 3D. Ini yang sangat menyebalkan dan membuat diri kami menggerutu. Bayangkan, setelah mengantri 1 jam, film yang diputar hanya berdurasi 10 menit! Dan juga efek 3Dnya sangat geje. Sungguh pelayanan yang kurang memuaskan. 

Di samping wahana ini, ada Sky Swinger sebagai tujuan kami berikutnya. Awalnya kami ragu- ragu, bisa saja kursi terbang tersebut berputar keras seperti Kicir- Kicir di Dufan. Tapi ternyata tidak! Saya dan Ester malah sempat menyanyi 'Leaving on A Jet Plane' saat mengudara :D

Sebelum keluar dan shalat, kami menyempatkan diri masuk ke Rumah Pipa. Dan hasilnya? Sepatu saya basah kuyup setelah tercelup karena tergelincir dari pijakan. Baju saya pun basah karena terkena semprotan air yang tersembunyi di dalam patung dan menggunakan sensor suara tersebut. Padahal prediksi saya, sensor yang digunakan adalah sensor gerak. Fufufufufu!

Berikutnya kami menuju Jatim Park 2. Ini pertama kalinya bagi saya. Saya sangat kagum melihat koleksi Museum Satwa dan Batu Secret Zoo. Sangat lengkap dan fantastis! Saya berkali- kali melontarkan kekaguman saya dengan berkata "Waaaaaahhh!"

Yang saya ingat lebih, saya, Mario dan Prima hampir ditinggal rombongan! Bagaimana tidak, kami baru mencapai setengah dari rute Batu Secret Zoo saat Chiki dan Rizka menelepon dan meng-sms saya! Alhasil, kami berlarian untuk mencapai pintu keluar tercepat. Jatim Park 2 yang begitu luasnya, dari Savannah hingga parkiran, ditambah lagi dengan gerimis yang turun. Saya salut atas ke-gentle-an Mario dan Prima yang berebut meminjamkan jaketnya untuk saya, karena jaket dan topi saya tertinggal di bis. *prok prok prok :')

Sudah dulu ya, disambung lain waktu dengan lebih berwarna dengan sedikit foto =)))) :*

Happy Birthday, Settan! :p

Hari Sabtu kemarin, tanggal 16 April 2011, ada 'pergelaran akbar' (lebe) yang dihelat di rumahku. Yaitu ulang tahu saudara sepupuku, adek Izar, Maulana Zarkasy Rais Hidayat. Acara ini begitu dipaksakan untuk terlaksana, karena tujuannya adalah untuk memenuhi keinginan branjang kawat satu itu.

Karena capek, aku tertidur setelah mengerjakan mading S2LC untuk JoerV di rumahku. Dan saat terbangun, inilah yang kulihat :

Itulah salah satu dari sekian banyak hiasan yang ditempel oleh omku sebagai hiasan dinding dan atap- atap rumah. Acara hari itu sangat meriah. Aku diutus untuk mengabadikan momen sore itu. 

"Happy birthday to youuuuuuu..."

The birthday boy

 Kiisssss

The gifts

Happy birthday boy! Sorry for being rude to you every day. I'll never do that if you promised won't bother me anymore. Haha :p :*

Minggu, 10 April 2011

The Real Kemendas!

Hari ini, banyak banget pengalaman gak mengenakkan yang aku dapat. Dan masalah ini salah satunya...

Aku paling gak suka dibilang orang lain menthus atau neges. Karena memang aku gak merasa sikapku seperti itu. Aku lebih merasa dihargai kalo dibilang cerewet, judes, jutek, ngamukan (temperamental), egois, otoriter, dan manja. Jujur iya banget. Aku lebih merasa senang dicap dengan serangakaian kata di atas daripada dibilang dua kata, tapi gak mencerminkan aku ; NEGES dan KEMENDAS!
Dan karena peristiwa yang aku alamin tadi pagi, aku mau protes atas pelabelanku demikian! Ya, ada yang lebih kemendas dari aku! 

Dialah seorang perempuan yang bernama Tri Aria Sari. Yang tak lain dan tak bukan adalah tanteku.

Jadi, tadi pagi itu, aku 'dipaksa' oleh ibuku untuk mengikuti kemauannya untuk ikut ke rumah tante saya yang di Sidoarjo. Kenapa aku bilang 'dipaksa'? Soalnya aku emang gak sepenuh hati buat ikut. Aku ada acara sendiri, yaitu kerja kelompok di rumah temenku yang tertunda kemarin. 
Ibuku pengen ke sana dengan menggunakan fasilitas umum komuter. Murah meriah alasannya. Jadi, sekitar pukul 08.00 WIB, kami pergi ke stasiun Gubeng. Awalnya perasaanku sudah agak gak enak. Soalnya, tanteku itu bilang, dia kalo naik komuter di hari lain, jam setengah 8 sudah ada di stasiun. Tapi ibuku meyakinkan kalo kami gak terlambat. Karena aku sendiri juga tahu, kalo komuter itu dari stasiun Gubeng, trus ke stasiun Semut, dan kembali lagi ke Gubeng. Baru deh, capcus ke Sidoarjo.

Tapi anehnya, waktu aku barusan nyampe di stasiun, sudah ada pemberitahuan kalo komuter itu akan diberangkatkan. Ibuku tetep aja keukeuh! Dan yakiiiiiiiiiin banget kalo gak ada masalah.

Setelah tanteku tiba di stasiun, kami langsung masuk ke dalam. Beli tiket dulu pastinya. Gak salah ibuku ngotot. Orang tiketnya cuma Rp 2.000,00 per orang.

Kami masuk, setelah menunggu sekitar 5 menit, si komuter pun tiba. Kami buru- buru naik karena takut tidak kebagian tempat. Tapi anehnya, komuter pagi ini sepi! BANGET! Sangat jauh dari perkiraan kami kalau komuter itu kembali dari Semut dan akan capcus ke Sidoarjo.

Dan di dalam komuter, aku mencoba menenangkan diri. Aku makan kue yang tadi sempat aku beli di stasiun Gubeng. Ternyata, komuter ini ke Semut (lagi?) !!!

Waktu kami berhenti di Semut, seluruh penumpang pada turun. Kami bertanya- tanya. Sampai sang masinis sendiri menginformasikannya :

"Lho, bu, mboten mandap?"
"Kok mandap pak? Niki sepure mboten teng Buduran toh?"
"Looooooh, nggih sanes Bu! Niki sepure mbalik teng depo. Mangke bidhal malih jam 11!"

MUUUUHHHHUUUUAAATTTTTTEEEEEEKKKSSSSSS TUDEMEW!!! -___________________-

Rasa mangkel bercampur malu langsung menyergap dan berkecamuk di pikiranku! Ini kalo bukan karena kecerobohan dan ketololan tanteku, gak mungkin sampe kayak gini! Dia dan keluarganya yang sudah membuat aku dan ibuku menunggu di stasiun dan ketinggalan kereta! Dia juga yang langsung menyuruh kami naik kereta padahal gak tau ke mana tujuannya! 

Ini baru yang namanya KEMENDAS itu! Bukan aku yang biasanaya kalian bilang di sekolah, reeek!
Di atasny langit itu masih ada langit! 
Kalian lo men-judge aku seakan- akan aku satu- satunya orang yang paling menthus sedunia dan gak ada yang bisa menyamaiku lagi!
Sakit reeek dibilang kayak gitu itu!

Toh juga ke-menthus-anku itu cuma masalah jawaban soal, bukan hidup mati seseorang kayak tanteku!
Untung ibuku bawa uang lumayan banyak, coba kalo gak ada sepeser uangpun, dan gak ada pulsa tersisa di hape! Bisa apa coba?!

Akhirnya, di tengah keputus asaan kita, bemo lyn D dan lyn Kuning jurusan Porong menjadi penyelamat kami.
Dan omku pun, menjemput kami di depan jalan menuju perumahannya. Yah, meskipun biayanya berkali- klai lipat dari yang dianggarkan kalo naik komuter. Sudahlah. Aku juga masih mangkel!

Selasa, 05 April 2011

Kepergianmu

        Kuiiringi langkahmu
      Sampai ke akhir jalan
     Sungguh berat terasa
     Menyadari semua
   

Di saat terakhirku
      Menatap wajah itu
Terpejam kedua mata
Dan terbang selamanya


Inginku mengejar dirimu
Menggenggam erat tanganmu
Sungguhku tak rela

 
reff :
Kutahu kau tak tersenyum
Melihatku menangis
Maka sekuat tenagaku
Kurelakan saat kepergianmu


Takkan pernah
Kulupakan dirimu
Takkan sanggup
Kulupakan semua