"Apabila kita takut akan sesuatu, maka, rasa takut kita melebihi apa yang kita takutkan sesungguhnya..."

Selasa, 29 Maret 2011

What An Amazing Adventure! (part.2)

Oke, mari kita lanjutkan cerita tentang perbolangan saya :D

Jadi kemarin Minggu, pos ke 3 kami itu seharusnya bertempat di Balai Pelatihan dan Pendidikan Teknik di Jl. Bumi Indah. Tetapi, saya dan kelompok saya malah nyasar ke Pusdiklat yang letaknya di puoojoookk notok jedok Jl. Balongsari. Kita salah arah! Yang tadinya harus belok, kita justru lurus dan nyasar jauh :(

Nah, di pos ini, kita dapat materi tentang Syuro2 (rapat) gitu... Geje, jadi gak bersemangat sharingnya :(
Nah, yang di pos terakhir, kita dapat materi tentang dakwah gitu... Tapi, karena kasusku terlalu 'duniawi', aku jadi ngasih motivasi, bukan dakwah --a
Dan di pos ini, kita (kelompok saya) jadi mengetahui rahasia penyamaran mas2 SKI! Lucuuu! Gak profesional, sampai kita  ngakak di bemo :p (maaf ya mas Mawan dan mas Fensa) LOL!

Dan di pos terakhir, di taman Margomulyo, kita diberi materi dengan sharing2 datar gitu... Trus, pulang deh ke Smala naik MLK!
Seru deh :D
Dan ternyata, rute sejauh itu, cuma bayar 2500! (y)

Senin, 28 Maret 2011

What An Amazing Adventure!

Hari yang amat bersejarah menurut saya. Hari di mana saya akan pergi bersama teman- teman saya yang sesama anak kota, yang buta arah, dan tidak tahu jurusan bemo untuk mencapai tempat tujuan kami :D

Tapi apa yang saya alami kemarin sangat mengesankan! Ini pertama kalinya dalam hidup saya untuk mbolang (berpetualang). Karena saya sebenarnya anak mami yang manja, sekaligus anak rumahan yang tidak bisa membedakan mana timur, barat, utara, dan selatan. 

Rumah saya berada di kawasan Timur yang dekat dengan pusat kota. Dan kemarin, saya bersama ke 4 teman saya yang lain; Arizta X5, Rifka X5, Nita Inas X8, dan Beeanda X9, diharuskan menjelajah kawasan Surabaya Barat. Sangat menyenangkan! Hal ini menyadarkan saya bahwa saya harus membuka mata saya lebih luas lagi, tidak hanya terbatas pada hal tertentu saja.

Pos pertama adalah Pos prioritas, yang dijaga oleh mbak Ami dan mbak Intan. Letaknya di masjid Baitul Ihsan (kalau tidak salah :p ). Untuk menuju ke sana, kami menaiki bemo lyn W kemudian oper bemo lyn I di pasar burung Diponegoro. Sempat kebablasan sedikit, tapi akhirnya kami sampai. Di sini, kami mendapat beberapa pertanyaan mengenai prioritas dan keputusan yang harus kami ambil apabila menghadapi beberapa kasus dalam waktu bersamaan.

-Ibadah, Keluarga, Belajar, SS, Teman-
itulah jawaban saya saat ditanya mengenai 5 prioritas teratas dalam hidup saya.

Kemudian, kami diharuskan memutuskan suatu masalah jika misalnya kami ada di dalam situasi tersebut.
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat musibah, keluarga kamu ada yang sekarat, tapi di saat itu juga kamu ada rapat dan harus mengemban amanah sebagai orang yang berkedudukan penting di suatu organisasi? Mana yang lebih kamu prioritaskan?" 

-Pastinya rapat itu sudah dipersiapkan dari jauh- jauh hari, dan di organisasi itu bukan hanya saya yang bisa  diandalkan, masih ada orang lain. Jadi saya akan datang meskipun tidak sampai selesai, dan menyerahkan untuk dipimpin oleh orang lain dan melanjutkannya. Kemudian saya akan datang menunggui keluarga saya.-

Selanjutnya, kami harus memilih manakah fasilitas yang akan kami prioritaskan dan kami lepaskan kepada panitia. Kami diberi pilihan :
  • Meninggalkan salah seorang teman
  • Meninggalkan seluruh barang bawaan termasuk peta
  • Meninggalkan uang minimal 60rbu dari total yang dibawa
  • Pencabutan hak IC (Information Center) dan penyitaan hape
Tentunya kami memilih untuk melepaskan hak IC dan memberikan hape kami pada panitia. (meskipun dengan tidak ikhlas)

Pos kedua yakni Pos membuat proposal dan melobby salah satu panitia yang berperan sebagai guru pembimbing. Letaknya di terminal Balongsari. Dan kami disuruh untuk membuat proposal kegiatan yang belum pernah diselenggarakan oleh SSKI V. Kami memilih untuk membuat proposal acara lomba mengahfal juz amma dan dai cilik. Namanya Juzzi (habis gak ada ide mau ngasih nama apa .__.)

Nah, menuju pos selanjutnyalah yang sedikit bermasalah. Kami tersesat dan salah jalur.

(mau tau cerita selengkapnya? baca part 2 ;) )

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Ada yang mengusik hati kecil saya untuk berbagi artikel ini kepada para pembaca. Anggap saja ini sebagai bentuk protes saya atas apa yang saya alami kemarin sore. Kesemrawutan lalu lintas, kemacetan, sesak, ramai, gaduh, dan hal- hal yang dapat memancing emosi. Anehnya, saya bukan malah marah atau tersinggung, tapi justru takut. Melihat ribuan orang berjejal di jalanan, mengenakan dress code hijau, dan bertampang urakan sekaligus (menurut saya) tidak berpendidikan.

Terjebak kemacetan mungkin bukan hal yang aneh bagi warga Jakarta. Tapi, jika di Surabaya, terjebak macet selama 30 menit di jalan sepanjang 500 meter, dan bukan jalan protokol, adalah hal yang fantastis! Pengguna jalan lainnya pun hanya bisa pasrah dan mengalah melihat 'konvoi' ini terjadi. Padahal ada ratusan aparat berwenang yang berjajar di situ.

Bagaimana tanggapan mereka? Sebatas yang saya lihat, mereka hanya tersenyum dan petentang- petenteng memamerkan alat keamanan (yang saya tidak ketahui namanya) juga perut jemblung mereka dan mengatas namakan kekuasaan. Suporter kesebelasan ini tidak dapat dibedakan antara si kaya dan si miskin. Kalau dari penampilan, hanya sekitar 50% saja. Tapi dalam hal kedisiplinan dan keteladanan berlalu lintas, mereka sama saja!

Ada sebersit rasa kesal yang menggelayuti pikiran saya saat melihat kejadian tersebut. Tapi karena takut  digoda, saya hanya bisa diam di dalam bemo yang saya tumpangi, dan berusaha mengamankan tas saya, mengantisipasi hal terburuk yang dapat saya alami. Mereka berjalan bersama- sama melawan arus, menyeberang jalan bukan pada tempatnya (di depan kendaraan yang terjebak macet), dan menggoda pengguna jalan yang berjilbab dengan mengucapkan salam.

Sebelum saya pulang, salah seorang kakak kelas saya yang membesarkan hati saya dengan berkata "Tenang, Mereka cinta damai kok dek..." Dan saya hanya menjawab sambil tersenyum kecut "Kalau orangnya seperti Mas semua, Saya baru percaya."

Saya cukup miris dengan kata- kata atau slogan yang terpampang di depan stadion melihat 'fenomena' ini.

Tunjukkan rek...
Arek Suroboyo adalah suporter yang bermartabat,
Berbuat anarki sama dengan mencoreng muka sendiri!

Lantas, siapa yang kini dikambing hitamkan dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini? Aparatkah? Para suporter itu sendiri? Atau justru pengguna jalan yang melewati area tersebut? Dan percayakah anda semua, jika slogan itu dapat terwujud? Mungkin... Tapi  itu, suatu saat nanti.... Wallahu 'allam bisshawwab :)

Jumat, 25 Maret 2011

Buah Kemunafikan Lala

Siang itu cuaca di sekelilingku terasa panas. Sepanas suasana hatiku saat mendengar cerita Erika.
“ Gimana Er waktu di mallnya? Mereka ngapain aja?” tanyaku melanjutkan pembicaraan dengannya.
“ Yah nonton, Dibeli’in minum… Cuma gitu- gitu aja kok Val, Gak ada yang di luar batas kewajaran.”
“ Bagimu sih biasa, Tapi bagiku kan beda Er… Trus nonton apa aja?”
“ Pertamanya sih nonton film horror gitu, Trus kan aku sama Amel gak boleh lama- lama, Jadinya ya kita pulang duluan. Katanya Lala sih, Mereka nonton lagi sampe sore, Trus Lalanya dianterin Timmy pulang ke rumah.”
“ Dianterin pulang? Cuma berdua? Naik motornya Timmy?” rasa penasaranku terus memberondong Erika.
“ Iya…”
“Udahlah Val, Gak usah dipikirin si munafik itu!” sahut Mela yang sedari tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Erika.

* * *

Memang, kini mereka telah memaafkan Lala. Tapi mungkin, suatu saat nanti, saat mereka telah lupa apa yang dijanjikan Lala, ia akan mengulangi kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya. Tanpa jera, tanpa lelah, dan tanpa dosa.
Aku teringat beberapa waktu yang lalu. Saat aku merasa di atas angin dan menguasai segalanya. Saat mereka bermusuhan dengan Lala.

“ Kamu tahu Val, Penyebab semua permasalahan di ‘8serangkai’ itu ya dia…”
“ Kamu tahu kan sekarang gimana liciknya dia?” tanyaku meyakinkan Arra.
“ Iya… Pantes kamu nyalahin dia, Bukan Timmy.”
“ Timmy gak sepenuhnya salah, Ra! Kalo Lala gak pernah ngasih harapan, Mana mungkin Timmy ngejar- ngejar dia kayak gitu?”
“ Iya yah… Kalo dipikir- pikir kamu bener juga Val.”
“ Nyesel kan kamu ada di kubu dia dan bela dia habis- habisan waktu musuhan sama aku?”
“ Aku gak bela dia Valerine! Oke, Emang, Aku yang ngasih nomer hp-nya Lala ke Timmy. Tapi, Aku gak pernah sekalipun nunjukkin kalo aku setuju mereka jadian!”
“ Ya udah… Terserahmu.” kataku mengakhiri perdebatan dengan Arra.

* * *

Ternyata, banyak rahasia yang mereka sembunyikan dariku. Mungkin, saat itu bukan waktu yang tepat untukku mengetahui segalanya. Maka dari itu, tak ada yang berani mengungkap seluruh kemunafikan Lala padaku. Tapi, saat aku mengetahui segalanya, rasa benciku pada Lala semakin menjadi- jadi dan diambang batas toleransi.
“ Hah?! Kamu masuk BK? Kenapa?” tanyaku suatu ketika.
“ Bukan cuma aku doang Val, Tapi juga Mela dan Kanya. Gara- gara tuh anak sialan yang namanya Lala.” Jawab Arra penuh rasa dendam.
“ Trus, Trus…”
“ Pertamanya sih Bu Desi nggak nyinggung masalahnya Lala, Cuma nanya- nanya shalatku gimana, Ada masalah gak ama pelajaran dan temen- temen. Tapi, Emang dasarnya feelingku udah gak enak, Eh, Ternyata…”
“ Ntar dulu, Dari mana Bu Desi tahu masalah kamu? Dia bisa baca pikiran kamu?” ada sesuatu yang tidak kumengerti pada pembicaraan Arra.
“ Yah gak lah dodol! Lala itu ngadu! Dasar anak cemen, Pecundang!” Arra memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.
“ Ngadu? Maksud kamu?” aku agak bingung dengan pernyataan Arra.
“ Ngadu, Valeriiiiine… Dia itu bilang kalo dia dimusuhin sama ‘8 serangkai’ dan minta bantuan Bu Desi buat nyari tau kenapa kita musuhin diaaa…”
“ Padahal dia sendiri kan yang salah sampe kalian musuhin dia.”
“ Iya! ‘Tul banget… Dia sendiri yang minta dijauhin sama Timmy, Eh, Dia juga yang mau diajak Timmy jalan…”
“ Jadinya kalian ‘dengan sangat terpaksa’ maafin dia? Kalian percaya dia gak bakal ngulangin kesalahnnya lagi?”
“ Iya… BANGETT!  Emm… Gimana ya? Percaya sih iya… Soalnya kita juga       udah terlanjur janji ke Bu Desi sih… Jadi, Mau gak mau kita nyerahin semuanya di atas perjanjian itu. ”
“ Ohh… Udah ya Ra, Aku ngantuk banget nih… Hoahhhem”
“ Ya udah deh… Daa Val…”
* * *
Handphoneku yang sedari tadi kugenggam bergetar, ada Nessa, sahabatku, di ujung sana.

“ Val! Jalan yukk! Boring nih di rumah…” ajak Nessa.
“ Ayukk… Aku juga lagi bosen nih di rumah.”
“ Stengah jam lagi aku jemput ya?”
“Yee… Asyik! Ngirit ongkos taksi… Bye Nessa.”

Sesampainya di mall…

“ Eh, Val! Itu bukannya Lala ya?”
“ Yang mana sih? Kamu salah liat barangkali.” ujarku tak percaya.
“ Itu tuh! Di pojok, Yang ada orang pake cardigan item abu- abu itu loh! Eh, Ntar, Bukannya itu Timmy ya? Lagi ngapain mereka di sini?”
“ Iya… Ih… Iya, Beneran  Nes, Itu Timmy sama Lala.”
“ Ayo, Val! Cari tempat duduk yang akses ngeliat ke mereka gampang!” ajak Nessa membuat ide usil Valerine tercetus.
“ Aha! Aku punya ide Nes! Ini bakalan jadi ‘the hottest news of the year’! Dan menggemparkan sekolah kita besok pagi!”
“ Hahahaha…” tawa kami meledak, seakan kami saling mengetahui apa yang sedang kami pikirkan masing- masing.
“ Val, Duduk di situ aja yukk!”
“ Ayo! Cepetan! Selagi mereka belum pergi.”
“ Ini... Nih, Kameranya.”

Dengan bukti 12 lembar foto, aku dan Nessa akan membuat segalanya berubah, termasuk ‘8serangkai’ yang telah menerima Lala kembali. Kini, mereka akan tahu betapa munafiknya seorang ‘Lala Azatania’ . Dan membuat kepercayaan ‘8serangkai’ takkan kembali selamanya.
“ Beress! Sipp nih Val!”
“ Harus dong! Siapa dulu detektifnya! Valerine Evananda!”
“ Eitss… Ada yang ketinggalan! Nessa Anggrania juga dong!”
“ Hahahaha… PEMBALASAN LEBIH KEJAM!” ujar Valerine sambil mengajak Nessa berlalu meninggalkan Timmy dan Lala yang masih asyik ngobrol tanpa memperdulikan apa yang sebentar lagi akan mereka rasakan… PEMBALASAN !

Arra, Tmenku yg plg malang.. Upss, sorry..
Abis, Kmunya sih.. Mau aja dibo’ongin ama Lala..
Asal kmu tau ya, tdi siang itu aku liat Lala ama Timmy jlan!
Berdua doang! Ngingkarin perjanjian antara kalian n Bu Desi..
Aku gak bo’ong.. Lagipula buat apa aku buang2 uangku utk cetak
12 lembar foto bukti ‘kemesraan’ Lala n Timmy..
Sorry, Kalimatku mgkin bkin kmu emosi, Tpi ini KENYATAAN!

From : Valerine
085850550558
Sunday, Nov, 22nd , 2009
08:50 p.m.

Keesokan harinya…

“ Eh, Misi- misi, Yang udah liat gantian ya sama yang lain! Masih banyak yang ngantri nih!” kata Valerine sambil memamerkan hasil karyanya.
“ Ada apa ya Ar, Kok rame banget di koridor?” tanya Lala yang belum mengetahui apa yang telah terjadi.
“ Tauk! Kamu tanya aku! Orang akunya dateng bareng kamu juga!” jawab Arra sinis.
“ Eh, Aku makin penasaran nih! Orang- orang kok pada liatin aku kayak gitu sih?”
“ Liat aja sendiri!” ujar Arra sambil mengajak Lala mendekati mading sekolah.
“ Eh, Peran utamanya udah dateng nih Val!” sapa Nessa sambil menaikkan nada suaranya.
“ Wow! Artisnya udah dateng nih! Bagi yang mau minta tanda tangan atau bahkan ngelemparin tomat ke mukanya dia dipersilahkan!” kata Valerine seraya menarik Lala mendekat ke ‘display hasil karya’nya.
“ Apa- apaan ini Val?! Maksud kamu apa?”
“ Oh… Kamu ngerasa dipermalukan ya?! Berarti kamu beneran ‘berperan’ dong dalam foto- foto itu?!”
“ Kamu emang… Emang… Huh!” Lala mengacungkan jarinya, ia terlihat mulai naik darah.
“ Eits… Yang sebenernya licik dan munafik kan kamu La, Bukan aku! Kamu kan yang nyembunyiin hubungan kamu sama Timmy ke temen- temen kamu?! Dan… Ini saatnya aku membuka mata mereka yang selama ini kamu buramkan dengan kemunafikanmu!”
“ Valerine…” Lala mulai sesak dan memegang dadanya.
“ Inget ya, La! Sepandai- pandai tupai meloncat, dia pasti bakalan jatoh! Seperti kamu! Gak selamanya kamu ada di atas, Menang! Ini saatnya kamu kalah, Itu buah dari kemunafikan kamu!” ucap Valerine yang diiringi masuknya Lala ke ruang BK…

My Own Design


This is the first time I wanna publish my sketch...
My hobby that inspired by my Grandma's (almh.) used to be job...
Hobby that I've done when I was elementary school...
And continuing until now...
And my desire to this hobby : Be a famous and professional  fashion designer, have a big boutique,
and can go abroad to develop my hobby :D

Dream


Really hopes a prince charming will sing this song with me...
Perhaps, someday... :)

Selasa, 22 Maret 2011

Biar Waktu Menjawabnya


“Sampai kapan kamu mau kayak gini, Sher? Kenapa sih buat ngucapin tiga kata itu rasanya sulitt banget buat kamu?!” tanya Luna pada Sherril suatu ketika.
“Biar dia tahu dengan sendirinya. Bukan aku, kamu, atau temen kita yang lain ngasih tahu dia. Waktu akan ngebuka kejujuran dibalik ini semua.”
“Tapi kapan Sherr? Apa kamu mau, Dia tahu kamu suka dia di saat terakhir dia liat kamu? Kata dokter, Hidup kamu nggak akan lama lagi kan.”
“Itu lebih baik kan Na, Aku jadi nggak perlu takut akan berurusan sama kakaknya. Aku nggak perlu ngumpet lagi kalo aku ketahuan lagi merhatiin dia. Toh aku nggak nyesel milih keputusan ini.”
“Ya udahlah Sherr, Aku cuma ngasih saran aja. Aku nggak bakal maksa kamu buat bilang ‘Aku Suka Kamu’ ke dia. Cepet sembuh ya Sherr, Aku sama temen-temen yang lain udah pada kangen sama kamu.”
“Mungkin Senin besok aku udah boleh masuk sekolah sama dokter. Doain aja deh apa yang terbaik buat aku.”

“Temen kakak tadi kenapa? Sakit hati ya? Masa baru ditinggal cowok aja udah kayak gitu! Mentalnya kacangan!”
“Ya ampun, Gitu itu sakit banget loh rasanya. Jangan kamu kira sepele Sherr! Mungkin aja kamu bisa ngerasain hal itu nanti.”
“Aku?! Nangis gara-gara cowok kayak temen kakak tadi?! Ih...Nggak banget deh! Makasih! Dan aku nggak punya waktu hanya untuk sekedar curhat sampai nangis kayak gitu.”
“Hust! Nggak boleh gitu! Kualat kamu ntar.”
“Kualat?! Hmm... I don’t care!!”
Percakapan singkat dengan kakaknya itu selalu terlintas di benak Sherril setiap saat. Kalimatnya dua tahun lalu itu, terbukti saat ini. Dia harus membunuh perasaan yang dimilikinya demi keutuhan persahabatannya. Apa yang bisa dikatakan Sherril saat itu tidak bisa ia wujudkan dalam kehidupan nyata. Ia selalu menangis untuk mertapi nasibnya. Malah lebih parah daripada teman kakaknya.
Ia hanya bisa menitikkan air mata melihat orang yang sangat disayanginya ternyata menyayangi orang lain. Dan orang lain itu sahabatnya. Prinsip yang selalu dipegang Sherril untuk selalu mengalah demi kepentingan orang lain tidak begitu saja enyah karena tabiat egois yang dimiliki setiap manusia. Meski ia sadar, hatinya sakit melihat orang yang disayanginya bahagia dengan orang lain, bukan bersama dirinya, Sherril tegar menjalaninya, di tengah penyakit kronis yang ia hadapi.

 “Demi persahabatan yang abadi. Apa aja bakal aku lakuin. Karena aku tahu, cinta sejati itu adalah keikhlasan untuk melihat orang yang kita cintai bahagia, meskipun bersama orang lain, meskipun diri sendiri harus hancur.” jawab Sherril ketika Luna menanyakan apa alasannya memendam perasaan yang dimilikinya.
Mungkin bukan karena itu saja Sherril merasa dirinya tidak pantas merasakan kasih sayang yang dimilikinya terbalas. Sirosis hati yang dideritanya sekian lama semakin memperparah keadaan. Anjuran dokter untuk membawa dirinya untuk selalu menikmati sisa hidupnya mungkin tidak akan terjadi. Karena di sela-sela kehidupan menjelang ajalnya, Sherril justru harus terluka melihat kenyataan yang ada.

“Hei, Lagi ngelamun nih.” suatu suara dari belakang mengejutkan Sherril. Ia cepat- cepat menyeka air matanya.
“Hai. Oh, Kamu Vi, Kirain siapa.”
“Sherril, Kamu kapan sembuhnya? Aku udah kangen ama kamu. Seminggu ini aku duduk sendirian. Nggak ada temen ngobrol, Nggak bisa pindah lagi! Uhh...Sebel deh!” Cerocos Vika tanpa memberikan kesempatan Sherril untuk berbicara.
“Ya ampun, Satu-satu dong Vi, Bawelmu ini emang dari dulu nggak bisa sembuh ya!” canda Sherril yang ia gunakan untuk menutupi kesedihannya.
“He..He..He.. Abis, Kamu sih! Udah lamaaaa banget nggak masuk! Aku pengen curhat banyaak jadinya.”
“Curhat apaan sih? Ampe bikin kamu semangat banget kayak gini.”
“Yah apa lagi kalo bukan tentang Gilang. Kamu tahu nggak, Gilang itu akhir-akhir ini seringg banget ngasih aku kejutan, Yang tiba-tiba nongol di sekolah lah, Terus bawain bekal aku yang ketinggalan di rumah .......”
Sherril hanya bisa diam mendengar semua celotehan Vika sambil sesekali menampakkan ekspresi tertarik. Tapi, kalau boleh jujur, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Sherril menangis sekencang-kencangnya meratapi nasibnya.
Gilang, Gilang Putra Adhiyaksa. Nama itu yang setiap saat dipikirkan Sherril. Nama itu yang bisa membuat Sherril “menggila”, dalam artian ia dapat tertawa dan menangis karenanya. Nama itu pula yang selalu membuat Sherril berada dalam bayang-bayang kehancuran.
Gilang adalah yang dimaksud Luna agar Sherril jujur atas perasaanya dan mengakui bahwa sesungguhnya ia sangat menyayanginya. Gilang adalah lelaki yang membuat Sherril mau meluangkan waktu berjam-jam untuk mengikuti bimbel dan mencuri waktu (meskipun hanya sedetik) untuk melihat wajahnya.
 
Tapi, Gilang tak tahu bahwa Sherril menyayanginya. Ia justru meminta bantuan pada Sherril untuk bisa “jadian” dengan Vika, sahabat terdekat Sherril setelah Luna. Vikapun tidak tahu menahu mengenai perasaan Sherril pada Gilang. Malahan, Vika sering curhat segala sesuatu tentangnya dengan Gilang yang tidak seharusnya diketahui oleh Sherril.

“Bingung ya jadi kamu. Gini salah, Gitu salah, Sebenernya apa sih yang bener dari semua perbuatan kamu?” tanya Luna saat Sherril sudah kembali bersekolah
“Hmm... Nothing, Maybe.
Nothing?! Mana mungkin Sher? Pesimis banget kamu tuh jadi orang!”
“Ahh... Udahlah! Never mind! Ngapain juga, kamu nanyain gitu Na! Nggak penting tau! Ayukk ke kelas, udah mau bel nih!”
“Ayukk.

Di kelas.
“Dalam pranata sosial, terdapat beberapa ciri-ciri, yaitu.......”
“Hst... Vik, Izin ke km yuk!” ajak Sherril.
“Ayukk!” Vika mengiyakan.
“Permisi, Bu, kami mau izin ke kamar mandi.”
“Oh..Iya silahkan.”

Di kamar mandi.
“Gilang apa kabar Vik?”
“Baek-baek aja tuh! Tumben kamu nanyain dia? Kangen ya?”
“Enggak! Cuma tanya aja.”
“Sher, Udah kan? Ayo!”
“Uhukk..Uhukk.. Vika.. Hhhh”
“Sherril kamu kenapa? Sher, Kamu bangun dong! Aduhh, Sherril kamu jangan bercanda dong! Pingsan kok di toilet! Nggak liat-liat sikon! Aku musti gimana nih! Eh, Tolongin dong!”
“Dia kenapa?” tanya salah satu anak yang menolong Sherril.
“Nggak tau! Tiba-tiba aja Sherril pingsan! Eh panggilin guru dong!”

“Luna, Aku nitip ini ya! Jangan dibuka bungkusnya! Kasihin ke Gilang ya!”
“Ini apa Sher?”
“Udah jangan banyak nanya! Kasihin aja ke Gilang! Cepet pulang sana gihh! Ntar dicariin mami kamu lagi!”
“Ngusir nih critanya?!”
“Loh?! Kenyataan kan. Siapa yang barusan telfon?! Mami kamu kan, nyuruh pulang kan?!”
“Tapi...”
“Udah, Nggak  usah tapi-tapian! Pintunya ada di sebelah sana tuh!”

“Hei, Luna! Apa kabar kamu?” sapa Gilang.
“Baik-baik aja, Lang! Nungguin Vika ya?”
“Iya nih! Vika mana? Biasanya kan dia keluar sama kamu dan Sherril.”
“Sherril... Udah meninggal tiga hari yang lalu. Sirosis hatinya udah stadium lanjut, dia nggak tertolong lagi.”
“Sherril punya penyakit? Kenapa Vika nggak pernah cerita ya?”
“Mungkin Vika pikir kamu nggak perlu tahu kali. Oh iya, Ini ada titipan dari Sherril. Seminggu yang lalu dia ngasih ini ke aku.”
“Apa ini Lun?” belum sempat Gilang membuka, tiba-tiba Vika datang dan langsung menggandeng tangannya. Refleks, dia menyembunyikan bungkusan itu ke dalam tas pinggangnya.
“Gilang, Kamu udah nunggu! Kenapa nggak missed call aku sih?!”
“Aduhh, Lupa Vik, Abis keasyikan ngobrol ma Luna sih.”
“Ya udah yukk. Da Luna! Duluan ya.”

Di rumahnya, Gilang membuka bungkusan yang diberikan Luna. Ada sedikit rasa takut terbesit di benaknya.
“Hah... Diary? Buat apa Sherril nitipin ini?!”
Gilang mulai membuka halaman pertama diary tersebut. Ia lantas membacanya. Sampai pada halaman ke lima belas, Gilang tertegun melihat namanya tertulis di situ.
 
Dear diary,
Kamu nggak bakal percaya sama yang aku alamin. Aku udah bisa ngelupain Devon. Di tempat les, aku ketemu ama cowok cakep banget. Gilang Putra Adhiyaksa. Ya, itu namanya. Bagus kan?! Dia temen satu levelnya Marissa, adik kelasku. Aku tahu namanya dari Luna. Usut punya usut, ternyata Gilang mantannya Filia (kamu tahu kan).
Gilang itu udah cakep, good lucking, pinter, tajir lagi. Aku SUPER DUPER kesengsem sama dia. Nggak salah, kalo akhir-akhir ini aku hobi duduk di pojok n nungguin Gilang dateng sama kakaknya. Tapi cuman berani liat dari jauh aja sih, abiss... Tengsin!
Tapi aku nggak berharap banyak. Mana mau dia sama cewek penyakitan macem aku. Apalagi cewek yang ketahuan suka sama Gilang, musti disortir dulu sama kakaknya. Ngeri abis deh, soalnya kata Marissa, Mbak Liana (kakaknya Gilang) itu judessnya minta ampun.
Aku bingung diary! Kenapa ya, aku kayak gini. Apa mungkin aku mulai 'sayang' sama Gilang? Nggak... Nggak boleh! Pokoknya aku nggak boleh suka sama Gilang. Ayo dong Sherril! Nyadar! Kamu tuh ntar lagi koit! Jangan mimpi tinggi-tinggi deh! Ntar jatoh sakit loh!

Ternyata, Gilang tersentuh membaca halaman diary Sherril. Ia menitikkan air matanya. Baru saja ia belajar dari pengalaman orang lain. Bahwa tidak selamanya apa yang kita inginkan, harus menjadi kenyataan. Sama seperti perkataan “Cinta tak harus memiliki”.
 

A Part of Teenlit



Ini kata- kata yang gak sengaja aku temuin di teenlit 'Separuh Bintang' karya Evline Kartika. Dengan penambahan background lebih tepatnya :p

Minggu, 20 Maret 2011

Sakit

Rasa sakit itu membuncah
Memasung hati, menyisakan pedih
Bagaikan memenjara diri
Dalam teralis besi berkarat...
Ngilu, Nyeri, Memar
Menghentikan aliran darah
Dan melumpuhkan syaraf
Mampukah hatiku bertahan? 
Atau rasa sesaat ini berhasil menghacurkanku?
Namun, separah apapun rasa itu menghujamku,
Kau bagaikan angin lalu,
Yang hanya bisa berkelebat di hadapanku!

Jumat, 11 Maret 2011

#BiramaAcet Full of Games :3

Jumat, 11 Maret 2011, pukul 11.35 #AsetGirls sedang melaksanakan rutinitasnya, yaitu #BiramaAcet. Setelah dibuka oleh Rizka, tilawah, dan taujih tentang tawakkal dari saya, Mbak Ari, selaku mentor kamipun mengajak refreshing sejenak dengan bermain games ringan. Tidak seperti biasanya... Saat masih bersama Mbak Nora dulu, games yang kami mainkan adalah games tebak- tebakkan mengenai seluk beluk Islam dan Al- Quran.

Tapi kali ini, games yang kita mainkan adalah Brain Teaser dan Pengasah Konsentrasi. Yang pertama adalah games tentang 'Angka dan Jari'. Sebenarnya games ini cukup mudah. Tapi, kami yang belum mengetahui trik dasarnya menjadi kebingungan dan terus bertanya- tanya "Kok bisa?" --"

Sampai 10 menit kemudian, masing- masing dari kamipun menemukan trik yang menjadi rahsia dari games tersebut. Ternyata dengan memperhatikan isyarat tangan terakhir dan kata sesudah bilangan yang disebutkan tadi adalah kunci utama terbongkarnya liku- liku itu...

Kemudian, saya menyela memberikan Brain Teaser yang pernah diberikan oleh Maam Silfia, mentor ICAS (International Competition and Assesment for School) saya, sewaktu pembinaan saat kelas 9 lalu. Namun, kali ini saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Begini pertanyaanya : 

"Seorang sopir taksi sedang berada di jalan raya. Ia belok kanan, meskipun sudah ada tanda dilarang belok. Ia belok kiri, padahal tidak diperbolehkan. Dan saat berada di lampu merah, ia terus menereobosnya. Tetapi anehnya, seorang polisi yang melihatnya tidak menilang sopir tersebut. Mengapa?"

Banyak sekali spekulasi yang muncul dari semua yang ada di situ. Dan naasnya belum ada yang bisa menjawab dengan benar. Mbak Ari pun menyerah dengan tebakan saya ini (y) :D

"Soalnya polisinya polisi tidur"
- Tiara Meidina -

"Soalnya sopirnya buta"
- Ovi Aswara -

Sampai akhirnya...

"Soalnya pas itu, sopir taksi tadi lagi gak bawa taksinya"
- Annisa Rizka-

Itulah jawaban yang sedari tadi saya tunggu teman- teman.., Terima kasih telah antusias ya :D

Kemudian ada usul untuk memainkan games 'Berpikir Sebelum Menjawab' yang diajukan oleh Mbak Ari dan langsung diiyakan oleh Intan. Dan saya adalah orang kedua dari terakhir yang berhasil memecahkan klu dari games ini --a 
Ternyata kuncinya adalah di kata atau ekspresi berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman kita. Sampai gulung- gulung di lantai saya karena merasa dibodohi...

Dan yang terakhir adalah games 'Perhatikan Anda dan Lingkungan Anda' yang sangat membingungkan dengan kamera 'cekrik cekrik' dan maksud tersirat dari games ini... Sampai akhirnya kami menyerah karena terlalu bingung. Di akhir acara, Mbak Ari pun membocorkan klu dari games ini. Ternyata, kita harus memperhatikan gesture dan body language dari si pemotret dan yang dimaksud. Ooooohhh :O

Yah... yah... yah... Meskipun membuat penasaran, tapi games hari ini sangat menyenangkan! Kapan- kapan lagi yu guys! :*

#BiramaAcet nginndh claluuwh belcamah clamanaaahhh! :*


Senin, 07 Maret 2011

Tinta Putih

Entah apa yang ada dalam benak mereka...
Niatan tulus untuk membenarkan kita kah?
Atau justru menjerumuskan kita di jalan yang salah?

Tinta putih itu mencemari genangan air hujan...
Tinta putih itu menjadikan sekelilingku keruh...
Tinta putih itu berusaha meluruskan kami,
namun ia telah memunculkan bibit perpecahan di antara kita...

Andai saja mereka mengetahui sejak awal,
Pasti mereka mampu menetralisir tetesan tinta itu...
Aku takut, mereka tak dapat memandangi refleksi diri mereka,
Seperti halnya aku, yang kini bingung menentukan peganganku...

Aku sangat merisaukan keteguhan mereka...
Aku resah akan perubahan yang mereka alami...

Akankah mereka berani melawan tinta itu?
Atau mereka dengan mudahnya,
menyerap tetesan tinta itu tanpa pikir panjang,
atau sebagai fatamorgana tetesan tinta putih di tanah yang kering?

Akankah mereka menyadarinya?
Akankah mereka mampu membatasi dirinya?
Akankah mereka berhasil melumpuhkan sepak terjang tinta putih itu?

Tuhan, betapapun seringnya kami melalaikanmu,
Kuharap kau masih bersedia menuntun kami,
Dan menyertai kami ke manapun kami menjejakkan kaki...

Jumat, 04 Maret 2011

Mas Agung Anak Sholeh :p

Kemarin, Kamis 3 Maret 2011, #AsetSmala dirundung duka. Setelah hari Selasa si Shasa kecelakaan, kemarin giliran pacarnya yang kena musibah *peace. Kami dikejutkan oleh sms yang dikirim oleh Pradipta Wahyu Agung Hutama (Bendol), yang menginformasikan bahwa ia mengalami kecelakaan saat berangkat sekolah. Jadilah sms itu sekaligus surat izin ketidak masukkannya sekolah. 

Spontan, kami mengumpulkan uang sukarela sebesar Rp 2.000,00 untuk membeli buah tangan yang akan dibawa ke rumah Ben. Dan berkoordinasi satu sama lain dalam hal pengangkutan penumpang menuju Bratang Wetan IIIA/ 19 Surabaya.

Tir, Bida, dan Ica yang merupakan panitia S2LC (Smala Science and Linguistic Competition), yang kebetulan sedang mencari sponsor, bergegas membeli buah- buahan di toko buah Hokey. Dan hasilnya : Tiga buah apel yang bernuansa Imlek (karena terdapat tulisan Han zi di kulitnya), dan 1kg Jeruk Ponkam didapat. Beserta keranjang dan bungkus yang memukau *ceileh.

Dengan kemurahan hati Tir, akhirnya, aku, Ica, Bida, Fajar, dan Rizka diangkut ke rumah Ben. Yah, meskipun aku harus meninggalkan Rakor Impuls di tengah- tengah :(

Di jalan, kami membicarakan semua yang terjadi pada #AsetSmala belakangan ini. Termasuk perubahan Riwan yang bisa dikatakan 'Ian wanna be' *sorry frontal. Buanyyyyaaakk yang kita omongin. Termasuk tertawa karena kejayusan saya *pedeabis.
Dan ancaman untuk Fajar : "Jar, Alay mudhun! Tak kongkon ngamen gawe numpak bemo nang omahe Ben!".
Seperti biasa, jawaban Fajar : "Guuuugggghhh beybeeeehhh" -3-

Setelah sekian lama di dalam mobil, kami akhirnya sampai di depan gang menuju rumah Ben. Sambil menunggu rombongan di mobil Mitha, kamipun menuruti Ica bernostalgia dengan masa kecilnya. Yakni  membeli sebungkus makanan ringan dengan bungkus bergambar singa kecil, berwarna hijau dan bertuliskan 'Nangka'. 
"Aku sudah lama pek cari jajan ini, Tapi gak nemu- nemu. Sueneng aku, wuuuueennnak pol! Dulu harganya Rp 250,00 an, tapi sekarang Rp 500,00 an." Begitulah komentar 'Bule Nyasar' satu ini sambil terus melahap makanan ringan yang digenggamnya tersebut.

Rombongan di mobil Mitha pun tiba. Ada Mario, Ucup, Astrid, Novi, Chiki, dan Mitha sendiri. Mereka segera menyerbu warung yang sama untuk membeli sesuatu. Entah macam jajan apalagi itu. Aku tidak tahu.

Kamipun berjalan menuju rumah Ben. Dan ternyata ibunda Mas Agung (panggilan Ben di rumah) mengetahui kedatangan kita saat beliau sedang bercengkraman dengan tetangganya. Beliau tergopoh- gopoh dan bergegas lari ke dalam rumahnya. Dan akhirnya kami tahu, kalau beliau sedang membangunkan putra tercintanya yang sedang tidur siang.

Ben pun keluar rumah. Dan alhasil kami kaget. 'Katanya kecelakaan? Tapi kok badannya mulus- mulus aja?' --a.
Tapi, cara berjalan Ben lah yang membuat kami percaya bahwa ia baru saja tertimpa musibah.

'Ayo masuk, Masuk. Maaf, Rumahnya kecil. Berantakan lagi'. Begitulah sambutan ibu Ben pada kami.
Yah... Kami tidak bisa berkata apa- apa selain 'Oh ya. Nggak papa kok, Tante'.

Setelah kami duduk dan menghantarkan buah yang kami bawa, Ben menceritakan kronologis kejadian saat ia kecelakaan
"Yo dadi, Lek arah arep nang sekolah tekan kene kan menggok, Lha aku iku gurung menggok. Lha, Onok uwong seng sak arah mbek aku, Aku lurus, De'e nyalip menggok tekan kanan. Lha aku kan lurus, Lumayan banter seh, Dadi gak isok ngerem. Yowes." 
Dan sang ibunda pun menyahut "Ya gimana gak tergesa- gesa, Berangkatnya aja jam setengah tujuh kurang sepuluh. Normalnya sini sekolah kan 20 menit Ini sering kok dibilangi, tapi bandel."

Dan para #AsetBoys yang bersepeda motor pun tiba. Ada Aziiz, Prima, Stezar, Askar, dan Situm.

Ada kesalah pahaman antara aku dan Ben saat bertanya sesuatu. Bikin malu! Sebenarnya, aku bertanya 'Apakah ada orang yang menolong dan memberi minum saat kamu kecelakaan?'
Tapi, dalam pikiran Ben : 'Kita kok tidak diberi minum?' *uisin pol, nggilani.

Jadilah ia keluar rumah dan menyusul ibunya yang sudah mendahului keluar. Akupun segera mengejar dan meluruskan pertanyaanku.Yah, tapi kan nasi sudah menjadi bubur. Mau gimana lagi? Ya nggak?

Selang beberapa menit kemudian, ibu Ben kembali dan membawa sekantong plastik penuh berisi air mineral kemasan gelas. Kemudian, disusul dengan tiga piring penuh gorengan yang habis tak bersisa kami lahap.



Tiba- tiba, Prima nyeletuk "Ndol, Mesomu lek nang omah kok rodo berkurang ngene?". Derai tawa kami pun langsung memenuhi ruang tamu kecil itu. Maka dari itu timbul sebutan 'Mas Agung Anak Sholeh'. :p  Tanggapan Ben? Hanya senyuman khasnya :

 


Setelah lelah memojokkan Fajar dengan '50 : 50 loyalitas untuk SDC dan PSGS, mana buat #AsetSmala?', kamipun pamit kepada ibu Ben dan pulang. Saat perjalanan menuju mulut gang, tempat sopir Tir memarkir mobilnya, si 'Bule Nyasar'pun kembali berulah. Ia mengejar seekor ayam yang dibiarkan oleh pemiliknya. Kami yang berjalan di belakangnya hanya bisa geleng- geleng kepala melihat ulahnya.

Penumpang mobil Tir ternyata bertambah. Karena Mitha tidak bisa menebengi kembali mereka yang saat berangkat ada di mobilnya. Dan kami harus rela pangku- pangkuan. Namanya juga nebeng, masa iya mau ngeluh?

Ya udah yu guys! Saya mau ciao dulu. This is the end of my posting :*

Rabu, 02 Maret 2011

Bidyboo's Curse

Hari ini, Rabu, 2 Maret 2011, salah satu member dari #AsetSmala ada yang ultah. Yaitu Hanif Abida yang punya panggilan akrab Bida... Judul posting ini memang terkesan su'udzon atau negative thinking karena aku sendiri juga gak tahu apa benar Bida mengutukku. ^^
Jadi ceritanya, tadi Bida itu dikasih surprise party sama temen- temen... Tapi aku gak ikutan, dan cuma menyumbangkan 1 pouch susu bantal untuk disiramkan padanya. Aku hanya melihat dari jauh di koridor, di depan mulut kelas #AsetSmala. Sedangkan mereka... Dengan asyiknya berlarian dan saling mengguyur di lapangan tengah. Alasanku :
  1. Aku takut dimarahi oleh Bu Mei sebagai anggota Wakasek kesiswaan yang jelas- jelas mengilegalkan kegiatan siram- menyiram di lingkungan sekolah.
  2. Aku gak mau seragamku kotor. Karena Bida itu juga 'mencari mangsa' untuk dipeluk. Padahal kan seragamnya kotor berlumuran teh, susu, kopi, dan tepung... Hiiiiiiiiii... Ogah banget!
Tapi aksi sembunyiku gak bertahan lama. Fajar menemukanku dan mengejarku. Padahal, yang bajunya masih bersih bukan aku saja. Ada Novi juga... (gak rela)
Refleks, aku lari menuju luar koridor. Sampai di depan cermin depan X 5, aku melepas sepatuku karena licin. Jadilah aku lari sambil beralaskan kaos kaki dengan ketakutan seperti orang sinting. 
Dan bodohnya, aku mempertahankan 'adegan' itu hingga depan lobby yang berpaving... --a
Sudah dilihat banyak orang, kaos kaki kotor pula...
Setelah berada di depan gerbang, aku berhenti sejenak untuk mengenakan sepatu kembali. Aku bersama Novi (yang ternyata juga membuntutiku lari), memutuskan kembali ke koridor. 
Kulihat suasana aman, akupun duduk kembali di balkon koridor. Sempat berbicara sejenak dengan Chiki.

Tapi tiba- tiba...
Chiki : "Bid, Iki lo Yoni sek resik! Nuakalan kok!"
Aku lari kembali dan berhenti di depan bank sekolah. Karena kulihat, Bida berbalik arah menujuku setelah mendengar celetukan Chiki. Setelah beberapa saat berdiri dan menunggu, tiba- tiba aku melihat Mario dan Fajar berjalan menghampiriku dengan raut muka seperti algojo yang hendak mengeksekusi narapidana.
Aku melanjutkan pelarianku sambil sesekali menoleh ke belakang. Aku berbelok ke kanan menuju kantin. Aku bingung hendak ke mana lagi. Aku berhenti di depan tangga aula dan berharap Mario dan Fajar tidak menemukanku. 
Saat aku melihat batang hidung mereka, aku hendak bersembunyi ke tempat yang lebih jauh. Tapi apa daya, mereka berhasil menyeretku hingga depan koridor. Namun, aku masih beruntung. Bida ternyata sudah melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi untuk membilas diri. Fiiiiuuuhhhhh.... :D

Aku langsung menyambar tasku dan memutuskan untuk pulang. Sebelum hal yang lebih fatal dari seragam yang kotor terjadi...
Di perjalanan pulang...
Aku menyibakkan rokku yang mengembang karena tertiup angin. Meskipun sudah kutindihi tas, tapi bagian bawahnya masih saja berkibar. Maka, aku selipkan bagian tengah rokku ke celah antara kedua lututku. Kemudian, sambil membenarkan posisi dudukku, aku menarik rokku yang terlalu terangkat hingga memperlihatkan leggingku. Dan alhasil, inilah yang kutemukan! 


Rokku sobek sepanjang 10 cm! Rasa mangkel bercampur dengan penasaran memenuhi pikiranku. Aku bertanya- tanya kenapa hal ini bisa terjadi. Dan aku beranggapan :
PASTI ROKKU SOBEK GARA- GARA KEJAR-KEJARAN TADI!
Akupun takut dengan membayangkan kemarahan ibuku...
Di bemo, detak jantungku belum normal, masih terpengaruh oleh insiden lari di sekolah. Dan rasa gerah segera menghampiri diriku. Keringatpun bercucuran. 'Ini sama saja, Seragam tidak kotor, Tapi rok sobek dan atasan serta jilbab yang sedikit bau!' batinku.
Tahu alasannya kenapa ibuku marah? Karena rokku telah sobek untuk ke empat kalinya, EMPAT KALI, saudara- saudara!

Bagi akhwat yang berjilbab (ya lumayan laah, gak lebar- lebar amat : D ) sepertiku, hal ini sangat menimbulkan tanda tanya di benak orang yang melihatnya. Jelas! Aneh! Masa iya muslimah bedigasan kayak anak yang gak berpendidikan? T.T
Dan sialnya lagi, legging yang kukenakan tadi, basah di rumah saat aku ke kamar mandi! Air dalam gayung tak kupegang dengan kokoh. Hingga akhirnya tumpah dan membasahi leggingku. T.T

Semua hal di atas lah yang membuatku menjulukinya 'Bidyboo's Curse' -,,-
Maaf ya Bid, kalo tersinggung. Tapi ini nyata. Kita udah impas kok.
Meskipun bajuku gak kotor kena tartmu, aku udah cukup 'balak' waktu aku pulang T.T