"Apabila kita takut akan sesuatu, maka, rasa takut kita melebihi apa yang kita takutkan sesungguhnya..."
Tampilkan postingan dengan label stress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stress. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2011

Nothing Special, So Bored.

Ramadhan dan Syawal tahun ini terasa beda banget buat aku. Sangat- sangat biasa lebih tepatnya.
Kalau tahun lalu ada kegiatan Ramadhan di mana aku jadi pesertanya, tahun ini jadi panitia itu sama sekali gak seru!
Meskipun, yah, pondok pesantren kilat di Lawang kapan hari itu menyenangkan, tapi unmemorable :(
Dan aku gak pergi ke mana- mana tahun ini, selain belanja jajan di Giant sekali doang.
Suwumpah, flat poll!
Yah, aku sangat futur Ramahan ini, gak terasa ada peningkatan keimanan.
Dan juga gak bisa khatam Al- Qur'an :(

Yah, aku cuma berdoa ini bukan Ramadhan dan Syawal yang terakhir buat aku.

AnywayTaqabalallahu minna wa minkum yaaaa!   :*   ({})

Gak Malu Dikatain Gini? ;))

"Kalau orang lain saja sudah bisa mendarat di bulan,
Kenapa rakyat Indonesia masih ribut
mengintip bulan?"




*dikutip dari Topik Petang ANTV edisi Selasa, 30 Agustus 2011
karena pembahasan Rukyatul Hilal :)

Kamis, 18 Agustus 2011

Awal Sebuah Keputus asaan

Maaf ya, lagi galau. Bawaannya pengen curhat aja. Dan sulit banget mengendalikan temper.

Kalau orang lain berpendapat bahwa mindsetku absurd atau cenderung nggak objektif menilai sesuatu, aku punya alasan sendiri untuk menyangkal. Setiap orang pasti memiliki perbedaan dibanding lainnya. Mereka juga pasti punya alasan mengapa memilih untuk menapaki perbedaan itu.

Berawal dari kelas X, dalam suatu organisasi -maaf, semua merk disensor pada artikel ini- aku dipercaya sebagai anggota dari salah satu divisi yang sebenarnya nggak aku kehendaki. Jauh! Melenceng dari ekspektasiku yang tadinya akan menemukan orang- orang baru di mana aku bisa berbagi ilmu dan bisa membimbingku.

Tapi ternyata? Kenyataanya berbalik 180 derajat! Aku satu- satunya anggota yang saat itu masih kelas X di divisi itu. Nggak punya teman, dan nggak kenal akrab dengan anggota lain. Mau bicara sama siapa coba?

Akhirnya ya pasrah. Mencoba jalani dengan ikhlas. Tapi rencana itu seperti debu, yang berhamburan seketika ditiup. Kepercayaanku mulai luntur. Aku merasa berada pada tempat yang salah. Sejak saat itu aku berpikir, betapa mudahnya mereka aku kelabui dengan kemampuan bicaraku yang masih cetek ini...

Begitu juga dengan organisasi satunya. Menjadi 'kaum marjinal' dia antara mereka yang 'berkuasa' itu berasa seperti kerbau dicocok hidung! Alih- alih pemimpin, tapi nyatanya? Pemimpin adalah pelayan. Daaaaan... Pelayan sekali ya memang. Tapi masih merasa dihargai sih, lambat laun aku sedikit bisa menyetir mereka yang useless itu.

Masalah hati? Oh, jangan ditanya! Sudah muak merasa dipandang sebelah mata oleh dia yang aku kagumi. Dan terulang kembali dengan orang yang beda. Parahnya, kasus baru ini mengalami komplikasi yang lebih fatal. Berusaha mengabaikan? Wah, sering sekali! Hasilnya? NIHIL!

Masalah pelajaran? Mulai dari kelas X aku sudah teramat sangat keteteran di sana sini. Sudah kapasitas otak pas- pasan, pealajaran susah, gurunya njengkelin pula. Lengkap sudah penderitaan ini...

Dan di saat aku mencoba untuk bangkit, menyetarakan kedudukan dengan mereka yang bermulut manis tapi nggak pernah mau tahu usaha orang kecil, keberuntungan dan kesempatan gak pernah berpihak padaku. Naas. Kenapa nggak sekalian tewas aja ya kayak yang di berita- berita? Ha ha ha *tertawa miris*

Aku mulai jenuh dengan nasib, dan betapa keberpihakan dunia pada orang yang aku sebutkan di atas. Muak! Mendangkalkan sungai nurani, dan menggerus dinding keikhlasan! Kalau seperti ini terus, apa gunanya pergi dari zona nyaman?

Senin, 15 Agustus 2011

Amanah (?)

"Jangan lupa, kamu sudah kelas XI,
Dijaga adek- adeknya,
Adek Joer-V, adek gen, sama adek- adek Biramanya juga..."

"......."

"Trus, jangan lupa ikut LDK..."

"Gak ada orientasi mbak..."

"Emang kalau ikut LDK harus punya orientasi?"

"......."

Rabu, 03 Agustus 2011

Istilah - Ilmiah


Tentang hati :
Aku belum paham benar mengapa organ tubuh satu ini dikaitkan dengan cinta dan rasa. Apabila dilihat dari fungsi biologisnya, hati merupakan penawar racun yang mengubah Hidrogen Peroksida menjadi  Hidrogen dan Oksigen agar tak merusak sistem metabolisme kita. Apa iya, organ yang juga menghasilkan bilirubin dan biliverdin ini dapat patah karena cinta? Dan dimanakah letak ‘hati’ yang sesungguhnya?

Tentang rasa :
Dari 4 rasa yang dapat merangsang papilla di lidah, seharusnya bukan hati yang dapat merasakannya. Aku juga tak tahu, dari mana rasa suka dan benci itu muncul. Dunia memang aneh. Mana mungkin kita dapat menilai kelezatan suatu masakan melalui organ yang dapat ditransplantasikan? Padahal kan lidah sudah terlebih dulu mengecapnya sebelum makanan mendapat gerakan peristaltik hingga sampai di kantung yang letaknya berseberangan dengan hati.

Tentang cinta :
Banyak orang berkata, bahwa cinta adalah saat kamu memberi tanpa mengharapkan akan menerima. Atau ada lagi ungkapan yang mengatakan bahwa cinta adalah anak keturunan kecocokan jiwa, dan tidak datang dari persahabatan yang lama dan hubungan akrab. Dan masih banyak lagi  penafsiran mengenai cinta yang tidak mungkin aku sebutkan satu per satu. Apa cinta juka termasuk rasa? Lalu, bagaimana dengan hati, apakah ia sanggup mengemulsi cinta seperti halnya ia mengemulsi lemak?

Entah, mungkin sampai kapanpun, kalau kita mencoba menghubungkan antara istilah dan ilmiah, tidak akan ada habisnya. Dan jelas, tidak ada yang dapat tersambung meskipun kita telah meluncurkan satelit termutakhir yang bahkan dapat menghubungkan sinyal dari palung Mariana dengan puncak gunung Everest.

Rabu, 27 Juli 2011

Gombli

The awkward moment is :

when you entered the bathroom,
 with a bottle in your hand, 
and you thought that a body wash,
but you had realized that was a hand body lotion
when you have poured it onto you hands!


-_________-