"Apabila kita takut akan sesuatu, maka, rasa takut kita melebihi apa yang kita takutkan sesungguhnya..."
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2014

My Best of Haru

Haloo halooooo! Setelah sekian lama (setahun lebih) tidak mengurus blogku tercinta ini, kali ini aku comeback dengan sebuah posting untuk ikut merayakan ‘Haru 3rd Anniversary’!


Di tahun 2014 ini, Penerbit Haru mengadakan sebuah kompetisi yang berjudul 'My Best of Haru'. Jadi, para pembaca buku terbitannya yang sudah terinfeksi Haru Syndrome, diperbolehkan mengikuti kompetisi ini dengan sedikit meresensi dan mengomentari tiga buku yang menurut mereka (salah satunya aku!) paling favorit... Selain itu, dalam posting ini, aku juga ingin menceritakan bagaimana pertama kali berkenalan sampai jatuh cinta dengan Penerbit Haru... Soooooo, let’s check this out!

Pertama kali kenal Penerbit Haru, gara- gara baca So, I Married the Anti-fan karya Kim Eun Jeong punya teman. Waktu itu masih edisi lama, belum re-packaged seperti yang sekarang. Isi bukunya masih menggunakan kertas buram. Yang covernya masih seperti ini...


Tapi menurutku,  cover yang lebih nge-pop itu terasa lebih cocok daripada covernya yang baru :(
Maaf ya, aku memang tipe orang yang kritis dan judge a book by it’s cover, hehehe...

Daaaan, inilah list tiga novel teratas terbitan Penerbit Haru menurutku...
Yang pertama, ‘Cheeky Romance’ karya Kim Eun Jeong



Awalnya waktu ke toko buku, nggak punya niatan sedikit pun untuk membeli novel ini. Ada novel lain yang aku incar, tapi sayangnya tidak ada. Nah, kebetulan aku melihat novel ini. Langsung aku baca deh sinopsis di cover belakangnya. Karena disajikan dengan cara yang unik, aku jadi tertarik untuk membelinya. Apalagi setelah mengetahui bahwa penulisnya adalah Kim Eun Jeong, yang sudah membiusku dengan ‘So, I Married the Anti-fan’. Jadi... Nggak ragu lagi deh...
Dan setelah baca... It’s wonderfully awesome!!! Membaca ‘Cheeky Romance’ membuat kita seolah- olah sedang berada di dalamnya. Alurnya, konfliknya, bisa aku rasakan seperti halnya sedang menonton drama Korea. Apalagi adegan romantis antara Yoon Pyo dan Yoo Chae silih berganti dengan permasalahan yang mereka hadapi. Benar- benar serasa menonton drama Korea yang dalam satu episodenya bisa menaik turunkan feel.
Banyak pengetahuan baru yang aku dapat setelah membaca ‘Cheeky Romance’, seperti apa itu endometriosis, ichthyosis, permasalahan managerial di rumah sakit swasta, juga bagaimana proses pembuatan sebuah reality show. Tokoh lain yang ikut terlibat seperti Se Yeong dan Dae Joon juga menambah bumbu- bumbu humor dalam racikan novel ini. Tapi, kehadiran Oh Hye Rong yang diceritakan sebagai sosok yang antagonis, sangat menyebalkan. Hingga ada kalanya aku bisa tertawa, menjerit kesal, serta menangis terharu...
 Ada salah satu adegan di novel ini yang menjadi favoritku dan masih sangat membekas di ingatanku, ini kutipannya...

 Tiba- tiba, Yoon Pyo menarik tangan Yoo Chae. Yoo Chae yang tadinya tertawa geli langsung terdiam dan menatapnya. Tiba- tiba saja, Yoo Chae sudah berada di pelukan Yoon Pyo.
“Kapan terakhir kita ciuman?” Yoon Pyo berkata pelan.
“Apa?”
Yoo Chae yang pinggangnya dipegang oleh Yoon Pyo menarik lehernya mundur. Namun, tatapan mata Yoon Pyo seolah menelan jantung Yoo Chae sehingga badannya terasa kaku.
“Kalau ada yang bertanya seperti itu padamu, bilang ‘hari ini’.”
Setelah berkata seperti itu, Yoon Pyo menarik pinggang Yoo Chae dan mencium bibirnya.

Seketika itu juga saat membaca, aku tersenyum geli sambil berkata “Oooow...” :3
Membaca ‘Cheeky Romance’ membuat aku membayangkan bagaimana seaindainya memiliki suami yang sangat pengertian dan berprofesi sebagai dokter kandungan. Mungkin, kalau harus kontrol, tidak perlu jauh- jauh dan merasa risih... Hahahaha...
Aku sangat berharap novel ini segera diadaptasi menjadi drama!

Dan sejak saat itulah aku mulai mem-follow twitter Penerbit Haru juga menjadi penggemar buku terbitannya... :)

Yang kedua adalah ‘(Not) Alone in Other Land, Sebuah Kisah Perjalanan Bahasa’ karya Lia Indra Andriana, Fei, dan Andry Setiawan.



Begitu melihat promo novel non-fiksi ini di twitter, aku langsung tertarik. Tapi, meskipun menjadi salah satu wish-listku, aku baru membeli novel ini pada kali kedua aku menemukannya di toko buku.
Novel ini banyak memberiku pengetahuan baru mengenai Korea, China, dan Jepang. Baik dari kebudayaan, maupun hal unik lain yang menjadi ciri khas negera tersebut. Novel ini semakin memotivasiku yang kala itu sedang giat- giatnya belajar bahasa Mandarin. (pssst, hingga aku berani mengambil keputusan untuk memilih Sastra Cina UI di SNMPTN 2013. Tapi takdir berkata lain...)
‘(Not) Alone in Other Land’ termasuk salah satu buku non-fiksi yang unik. Apabila novel lainnya hanya menceritakan mengenai pengalaman berwisata, novel ini menceritakan bagaimana kehidupan ketiga penulisnya yang hidup, belajar bahasa, berkenalan dan bergaul dengan orang baru, bahkan bekerja di sana. Sehingga, secara tidak langsung, aku jadi memahami bagaimana kehidupan sesungguhnya di sana, bukan sekadar membayangkan saja. Juga ada beberapa persepsiku mengenai orang Asia Timur yang diluruskan oleh novel ini.
Novel ini berisi banyak kalimat motivasi dari ketiga penulisnya. Salah satu yang aku favoritkan adalah quotes dari kak Fei.

Yang namanya manusia memang harus terus berusaha menangguhkan dirinya karena pada akhirnya kita tidak akan bisa terus- terusan bergantung pada orang lain selain diri sendiri.

Yupp! That’s so true :)

Yang ketiga yaitu ‘Oppa and I : Love Missions’ karya Orizuka dan Lia Indra Andriana.



Sebenarnya aku telah mengenal kak Orizuka sejak baca novelnya yang berjudul ‘Fight For Love’. Aku bahkan lupa saat itu aku masih SD atau SMP (saat ini aku sudah kuliah). Lalu, ketertarikan membaca novel kak Orizuka akhirnya muncul lagi karena ada kegiatan Budaya Literasi saat SMA. Aku dan teman perempuan sekelasku suka bertukar koleksi novel kak Orizuka, kita memiliki ketertarikan yang sama dengan karyanya maupun hal- hal berbau Korea di dalamnya.
Aku membaca Oppa and I seri pertama pun dari hasil pinjaman dari seorang teman. Dari situlah, minatku mengikuti Oppa and I series mulai muncul, hingga aku membeli seri kedua dari Oppa and I ini.
Setelah membalik halaman pembatas chapter 1, kita disuguhi petikan lirik dari sebuah lagu yang berjudul ‘Snowy Wish’, yang dipopulerkan oleh girlband SNSD. Bisa ditebak, perjalanan novel ini dimulai oleh cerita dari Jae Kwon, si kakak dari kembar Jae yang diceritakan hafal tarian beberapa girlband di seri pertama.
Musim dingin yang melatar belakangi juga menambah kesan sendu saat membaca novel ini, terlebih banyak konflik serius tidak terduga mengenai keluarga Jae In dan Jae Kwon yang terungkap, bukan hanya sekadar kisah kembar Jae dengan teman- temannya.
Dalam novel ini, Jae In yang memiliki karakter introvert mencoba membuka hatinya dan percaya kepada keluarganya yang baru kembali utuh ini. Jae Kwon yang berhasil menjadi pengisi suara, dilanda patah hati karena pujaannya, Hye Rin, yang diceritakan sedang memulai debut drama, hingga mempengaruhi profesionalitasnya sebagai pengisi suara.
Namun, semua permasalahan dalam seri ini berakhir bahagia dengan berita kehamilan ibu kembar Jae. Sehingga, di novel selanjutnya (sebenarnya sudah terbit, namun aku belum membacanya), series ini akan diramaikan oleh kehadiran Jae Joong :D

Hingga saat ini, terhitung ada tujuh novel Penerbit Haru yang aku miliki. Bervariasinya genre yang dihadirkan oleh Penerbit Haru membuatku semakin ingin menambah koleksi. Dulu, aku sering malas membaca novel terjemahan bahasa asing karena sulit dipahami, namun setelah membaca novel terjemahan dari Penerbit Haru, bukannya kapok, aku justru semakin penasaran dan ingin membaca lagi dan lagi! Bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan ambigu. Selain itu, gaya bahasa yang tidak baku dan terkesan santai semakin membuatku cinta dengan buku terjemahan Penerbit Haru.

*sebenernya ada tujuh, yang satu lagi dipinjam teman

Tapi, ada sedikit ketidak nyamanan yang aku dapat ketika membaca novel terjemahan Penerbit Haru. Terkadang, dalam dialog panjang antar tokohnya, aku sulit membedakan mana yang diucapkan oleh si A atau B. Mohon lebih diperhatikan lagi ya para editor dan proof-reader. Mungkin dalam novel asli tidak ada penjelasan demikian, sehingga tidak diperkenankan mengubah isinya, ya? Atau mungkin aku saja yang terlalu lambat dalam memahami -___-“
Ke depannya, aku berharap Penerbit Haru bekerja sama dengan lebih banyak toko buku agar mudah dalam mendapatkan koleksinya. Selama ini, jika ingin membeli novel Penerbit Haru, aku harus ke toko buku yang tidak berdiskon seperti Gramedia dan Gunung Agung. Itupun tidak di semua Gramedia. Jadi...... Ya harus pikir- pikir lagi kalau ingin membeli lebih dari satu buku sekaligus... Hehehehe :D
Kadang ada sih di toko buku lain, tapi koleksinya tidak lengkap. Aku pernah kesusahan mencari ‘My Boyfriend Wedding Dress’ karya Kim Eun Jeong di toko buku yang mempunyai stok ‘Cheeky Romance’. Ya, aku kira petugasnya mengetahui. Tapi hasilnya nihil.
Akhirnya aku berhasil menemukannya di Gramedia sebuah mall (yang sayangnya saat ini sudah beralih fungsi) namun terpisah dengan koleksi Penerbit Haru lainnya, bahkan nyempil di novel terjemahan bahasa Inggris ._.


Jadi, semoga pengalaman tidak menyenangkanku tidak terulang kepada penggemar buku- buku Penerbit Haru lainnya yaaaa :D
Sukses untuk Penerbit Haru, semoga semakin produktif dan bertambah penggemarnya!
Daaaan, tidak lupa aku mengucapkan...

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE- 3 PENERBIT HARU!!!

Best regards, dari aku, yang selalu menunggu koleksi terbarumu! ;)



Rabu, 09 Mei 2012

Dilema Hati Rana


Annyeong yeorobuuun! *\(^O^)/*
Nadnov is back! Kali ini dengan cerpen Islami sebagai tugas agama yaitu Dakwah.
Semoga berkenan yaaa :D
Selamat membaca...

“Dengan berakhirnya penampilan dari Vidi Aldiano, maka berakhir pulalah acara Festival Musik SMA Mandala…”
“Saya Farhan, dan rekan saya…”
“Rana…”
“Mengucapkan pamit, dan… Sampai jumpa!” ucapku bersama Farhan dengan semangat mengakhiri acara sekolah yang kami bawakan.
Suara petasan yang diledakkan ke udara, mengiringi turunnya kami ke backstage.

Alhamdulillah ya, Na, acara kita sukses.”
“Iya, Han. Padahal waktu mulai tadi aku nervous banget, semua penonton pada ngelihatin kita. Takut salah ngomong.”
“Gitu tadi kamu bilang nervous? Kamu kelihatan profesional dan keren banget Rana! Two thumbs up for you.”
“Ah, gak perlu memuji aku deh. Ini juga berkat kerjasama kamu.” ujarku lantas tersenyum mengakhiri pembicaraanku dengan Farhan.

“Rana, ada yang mau ketemu sama kamu tuh.” Mbak Icha, ketua panitia festival musik ini menghampiriku.
“Siapa mbak?”
“Udah, lihat aja. Dijamin kamu gak bakal diapa – apain kok.”
Dengan sedikit ragu, aku berdiri bangkit dari kursi yang kududuki. Mengintip sejenak keluar ruang tunggu.
“Ayo, sini, orangnya ada di ruang itu.” Mbak Icha melambaikan tangannya dan menunjuk sebuah ruang yang terletak di samping ruang tungguku.
“Oh, iya mbak.”
Saat Mbak Icha membuka pintu, aku berdiri di belakangnya. Siapa tahu yang akan kutemui adalah orang yang akan mengevaluasi kegiatan presenterku sesaat lalu.

“Permisi, pak. Ini Rana, presenternya.”
“Oh, iya, makasih Icha. Silahkan duduk Rana.” aku tersenyum sekilas sambil berjalan ke tempat duduk yang dipersilahkan bapak tadi.
“Perkenalkan, saya Suryo, produser di agensi Bintang management.”
“…” aku tidak tahu harus menjawab apa. Hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Begini, Rana. Maksud saya memanggil kamu ke sini adalah, kami memberikan tawaran kepada kamu untuk mengikuti casting acara musik yang akan disiarkan di salah satu televisi swasta...”
“…” aku masih terdiam dan hanya mendengar perkataan pak Suryo.
“Jadi, kalau kamu lolos casting nanti, kamu akan menjadi co-host di acara tersebut. Sedangkan presenter utama di acara tersebut adalah artis- artis ibukota yang sudah terkenal, seperti Ruben Onsu dan Omesh… ”
“Tapi saya belum profesional, pak. Acara tadi aja cuma coba- coba dan tuntutan dari sie acara.” kuberanikan diri mengeluarkan suara.
“Gak papa. Nanti kalau Rana lolos casting, Rana akan mendapat kursus singkat dan seminar- seminar mengenai manajemen kepribadian dan soft- skill dalam dunia presenter.”
“Hmmm, apa tidak mengganggu jadwal sekolah nantinya?”
“Oh, tenang! Itu bisa diatur. Rana datang saja ke acara castingnya ya. Hari Minggu besok di Plaza Convex jam 9 pagi. Ini kartu nama saya, kalau ada perlu, di situ ada nomor yang bisa kamu hubungi.”
“Hmmm, terima kasih kalau begitu, pak. Nanti akan saya pikirkan lagi tawaran bapak.”
“Oke. Sampai jumpa Minggu besok ya Rana. Saya ada urusan lagi, harus pergi sekarang.”
“Oh, iya pak. Semoga urusannya lancar.”

Sesampainya di rumah, aku menceritakan hal tersebut kepada Mami dan Papiku.
“Mi, aku dapat tawaran casting jadi presenter lo.”
“Oh ya? Wow! Udah, ikut aja Rana. Lumayan loh, Na, setahu Mami, management itu dan stasiun televisi itu sering mengorbitkan artis- artis baru. Siapa tau kamu lagi beruntung.” Dukung Mami antusias.
“Tapi gimana sekolah Rana, Mi?”
“Ah, gampang, kamu nanti bisa homeschooling.” Papi menimpali.
“Minggu besok, Mami yang bakal antar kamu. Jadi banyak- banyak latihan ya, Mami gak mau ntar malu.”
“Iya deh.” mulutku mengiyakan, tapi tidak dengan hatiku.

Hari yang kami tunggu tiba. Mami sangat mengharapkan keberhasilanku. Kesempatan tidak datang dua kali, kata beliau.

“Rana, selamat. Kamu lolos casting. Minggu depan datang lagi ya untuk interview.” seorang perempuan yang nametagnya bertuliskan Indah, memberitakan itu setelah seluruh peserta, termasuk aku menjalani casting.
Mami memelukku senang. Aku tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi aku senang, namun di sisi yang lain, aku merasakan keraguan.
“Oh iya, untuk pertemuan berikutnya, mbak harap kamu tidak menggunakan jilbab ya.” perkataan Mbak Indah bagaikan pukulan yang menghantam kepalaku.
“Lho, kenapa mbak? Tidak ada persyaratan yang mencantumkan itu kok. Kenapa tiba- tiba di tengah jalan ada peraturan seperti itu?”
“Hmmm, begini Rana. Kamu lihat kan, tadi di luar, peserta yang menggunakan jilbab hanya kamu. Mbak rasa, itu akan mempersulit kamu dan menjadi alasan kalau kamu gagal ke tahap setelah interview.”
“Sudahlah, Rana. Ikuti saja peraturannya, toh kamu sendiri gak rugi.” Mami berkilah.
Apa? Gak rugi? Apa maksud Mami? Aku terus membatin hingga perjalanan pulang ke rumah.

Aku tidak betah, aku harus menyelesaikan urusan ini sebelum terlalu jauh. Mana mungkin aku melepaskan jilbabku!

“Mami, Papi, Rana mau bicara.”
“Ada apa Rana? Gak biasanya anak Papi ini serius sekali.”
“Aku gak mau ikut tahap interview presenter itu.” ucapku tegas.
Why babe? It will give you many advantages and new experiences!” Mami membuka suara.
“Keuntungan? Mudharat itu Mi, Pi! Aku gak mau kalau aku harus lepas jilbab aku.”
“Ya, ampun. Kamu masih muda Rana! Berjilbab bisa kapan aja. Kamu belum naik haji kan?” Papi menyambung.
“Sejak kapan pikiran Mami sama Papi jadi sesempit ini? Sejak kapan Mami sama Papi membatas kemauan Rana? Kenapa Mami sama Papi menyimpangkan ajaran Rasulullah!”
“Kamu kok jadi sok tau gitu sih, Na. Mami sudah sering bilang kan, kamu gak usah bergaul sama anak- anak remas itu! Jadi seperti ini kan, kamu!”
“Mami! Jangan sebut mereka remas, mereka temen- temen Rana anak ekskul Rohis. Mereka bahkan lebih tahu masalah agama daripada Mami dan Papi. ”
“Islam gak mengajarkan kamu buat membantah orang tua, kan?”
“Tapi Mami dan Papi justru menjerumuskan aku ke kemudharatan dan kemaksiatan.”

Aku pergi, mengadu, pada Allah, Tuhanku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ya Allah ya Rabb, Bukalah mata hati dan pikiran kedua orang tua hamba. Buktikanlah bahwa keputusan yang mereka ambil adalah salah. Dan tunjukkanlah pada mereka, berikanlah pada mereka kemudahan untuk membedakan yang bathil dan haqq. Ampunilah dosa kedua orang tuaku ya Allah… Allahummaghfirli waliiwaalidayya warhamhuma kama rabbayyanii shaghiiraa…

diilhami dari Q.S. Al Ahzaab  : 59



Senin, 09 April 2012

Long Time No See

Halo semuanyaaaa :D

Maaf jarang posting. Ada trouble kalo mau log in lewat laptop.
By the way. Mau sekedar cerita.
#AsetSmala mau trip part 2 ke Bali looo.
Semoga jadi yaaa, soalnya kali ini kita gak full team lagi :'(

Ditunggu aja posting selanjutnya.
Dan long weekend (6-8 April) lalu, saya baru saja family vacation ke Taman Safari dan Maharani Goa n Zoo.
Nanti (insya Allah), mau posting juga gimana keseruannya. :D

Udah dulu yaaaa,
Lagi seru demam Korea sama belajar 汉语

再见..... ~(^O^)~

Senin, 09 Januari 2012

Antara Kenyataan dan Kesamaan

"Terkadang,  kita gak sadar sama perasaan kita,
tapi sekeliling kitalah yang menyadarkan..."
- Soap Bubbles-

Mungkin itu jugalah yang dirasakan oleh Lana. Setelah putus dari Tody, pacarnya yang terpaut usia 5  tahun,  dia tidak menyadari kalau sebenarnya ada Affan yang bergelayut di pikirannya.
Tody- Lana- Affan memiliki kesamaan, yaitu sama- sama punya hobi main soap bubbles. Lalu, apakah kesamaan ini menemukan mereka pada suatu kenyataan? 
Bagaimana pula nasib Rafay, sahabat Lana yang diam- diam menyukainya sejak MOS? 
Dan akankah Lana menerima ke-misterius-an Affan yang suka tiba- tiba pergi backpacking?

Felasaufa mencoba menghadirkannya dalam suatu teenlit bercover pink ini. Terbitan Gramedia Pustaka Utama November 2011.

Penasaran? Silahkan beli di toko buku terdekat, jangan sampai kehabisan :)  

Jumat, 23 Desember 2011

Dari Piano Tua Hingga Ruang Bawah Tanah

Yak, ini posting random yang diilhami oleh cerita yang saya dengar dari teman- teman saya. Sebuah rahasia yang (mungkin) saya adalah orang terakhir yang baru mengetahuinya.

Ini cerita mengenai sekolah saya tercinta, SMA Negeri 5 Surabaya. Yang bangunannya merupakan peninggalan kolonialisme Belanda. Yang (katanya, berdasar sejarah) merupakan HBS (Hogere Burger School, sekolah tingkat menengah dan atas yang digabung 5 tahun). Dan pada masa penjajahan Jepang, sekolah saya (katanya, lagi) merupakan markas bagi tentara dan tempat pembantaian (begitulah inti yang saya tahu).

Ya, anda pasti bertanya- tanya mengapa judul posting saya demikian. Kedua hal di atas (piano tua dan ruang bawah tanah), adalah rahasia baru yang baru saya ketahui setelah 1 tahun lebih menjadi Smalane. Respons pertama saya? Jelas, kaget! Tidak percaya.
Yang saya tahu awalnya hanyalah -sebatas- cerita bahwa Smala adalah sekolah yang angker karena bangunannya adalah peninggalan Belanda. Yang (katanya) ada beberapa ruang di koridor kelas X menyimpan banyak cerita mistis. Tapi alhamdulillah, sejauh ini saya belum pernah mendapat pengalaman aneh mengenai kehadiran 'si empunya' sekolah.

Namun, fakta yang dibeberkan teman saya beberapa hari yang lalu membuat saya penasaran. Padahal, awalnya kami hanya bercerita mengenai bangunan bersejarah yang ada di Semarang (Lawang Sewu). Tapi, lama kelamaan, cerita itu merembet hingga ke sekolah kami.

Kalau anda pernah mengunjungi Smala, pastinya anda pernah melihat bangunan yang sekilas mirip dengan pegupon (rumah merpati dalam bahasa Jawa). Bangunan itu dulunya merupakan menara pengintai pada masa Jepang. Entahlah, saya sendiri juga belum pernah (hmmm, sepertinya tidak akan pernah mau) naik ke sana.
Banyak cerita- cerita yang susah dicerna oleh akal sehat saya saat ada yang mengatakan bahwa di dalam pegupon itu ada sebuah kursi yang tiba- tiba bisa bergerak- gerak sendiri meskipun tidak ada yang menduduki.

Dan saat teman saya (yang kebetulan anak pindahan) menyeletuk, adakah jalan yang bisa ditempuh untuk naik ke sana, teman saya yang lain menyahut, ADA!

Jelas, saya kaget. Seumur- umur saya baru tahu kalo jalan itu masih dibiarkan dan tidak ditutup untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Dan parahnya, teman saya mengimbuhkan, bahwa tangga yang digunakan untuk menuju pegupon itu ada dua jalan. Ada yang ke atas, menuju bangunan sempit mirip menara dan satunya lagi tangga ke bawah menuju ruang bawah tanah! Wow! Dan katanya, luas ruang bawah tanah itu mulai dari pintu menuju tangga itu hingga ke lapangan tengah. Kalau dipikir- pikir cukup luas. Dan kamipun hanya bisa berandai- andai membayangkan apa yang pernah para penjajah lakukan di sana dan bagaimana bentuk ruang tanah itu dulu dan saat ini.

Saya, yang ditunjukkan teman saya pintu dan jendela yang mengekspos tangga itu pun bergidik ngeri. Apalagi saat saya mengintip, hanya ada 3 orang (termasuk saya) yang ketiganya adalah perempuan.

Dan mengenai piano tua, itu ada di salah satu ruang tak berpintu yang 'disembunyikan' sekolah saya. Saya sendiri belum pernah mengetahui di mana ruang itu berada. Kata teman saya sih di sebelah ruang UKS. Tapi yang saya tahu, ruang di sebelah UKS merupakan Sekretariat Paralela (atau yang lebih pantas disebut gudang). Sebenarnya ada sih jendela yang bentuknya sama dengan yang ada di koridor kelas X. Namun jendela tersebut tertutup oleh papan yang tidak tembus cahaya. Dan kalo dilihat lebih teliti, memang ruangan tersebut tidak menyatu dengan UKS maupun ruang kelas X - 9. Mungkinkah piano tua yang selama ini diperbincangkan ada di dalamnya?

Yang jelas, ruang itu berjendela namun tak berpintu. Saya pun tidak tahu dari mana piano tersebut bisa dimasukkan dan untuk apa piano tersebut ada di ruang itu. Aneh. Sungguh aneh. Ternyata banyak rahasia yang tidak saya ketahui, dan hmmmm, cukup menakjubkan!

Penasaran? Untuk lebih jelasnya, tunggu Cream (Creativity of Smalanese) edisi berikutnya! (nad)

Kamis, 22 Desember 2011

Jigeumpuuuun, So Nyeoh Shi Dae!

Ini bukan cerita mengenai profil atau liputan mengenai ketenaran mereka. Tetapi aku akan membahas mereka dari sisi yang aku kagumi. 
Mungkin, kalian pernah membaca di blog lain bagaimana Taeyeon menangis karena staff managemen mereka duduk di bawah sedangkan mereka makan dan duduk di atas, atau mungkin kelembutan hati Seohyun yang sangat polos dan lugu.
Aku tidak akan melanjutkan pembahasan itu. Aku hanya ingin meyakinkan bahwa mereka adalah sosok perempuan tangguh yang hebat dan layak dikagumi. Mereka telah melewati pertarungan lahir dan batin selama kurang lebih 11 tahun (termasuk masa trainee terlama), untuk menjadi seperti saat ini. Terlepas dari rumor mengenai operasi plastik atau bagaimanapun yang membuat mereka memiliki anti-fans.
Aku baru saja mengakui jika aku mengagumi mereka, belum setahun bahkan. Namun, di waktu yang sesingkat itu, kecintaanku terhadap mereka semakin bertambah :)
Aku suka mengoleksi foto- foto mereka, terutama saat tahun 2007, awal mereka debut.
Mereka sangat alami di usianya yang rata- rata 17 tahun. Kecantikannya, keanggunannya, mengagumkan.
Entah kenapa, jujur, aku lebih suka melihat wajar mereka dulu, daripada sekarang (kecuali Sooyoung).
Yakinlah eonni, tanpa kalian merubah satupun segi fisik kalian. Kalian tetap mempesona para SONE. 
Dan kami akan selalu mendukungmu :)
















Happy Mothers Day!

Mungkin, aku bukan seseorang yang romantis dan spontan dalam mengucapkan kata sayang.
Bahkan, untuk meminta maaf pun, aku mengalami kesusahan.
Tetapi, semoga semua itu tidak menjadi penghalang bagiku untuk membuktikan,
bahwa tidak ada yang menandingi kekuatan apapun di dunia ini
selain kasih sayang ibu pada anaknya........
 
Vira - Tante Yo

Bagas - Tante Vi
 
Me - My Mom :*

Mbak Vivin - Uti Mah

Putri - Izar - Tante Tri

Whatever they say, you'll always be the best mom in my life!
Never get tired to teach me everything in this world.
Even though I can't do anything to make you proud, mom :)

Minggu, 18 Desember 2011

Hadiah?

Sebenarnya saya sudah bermaksud memposting ini sejak lama, tapi baru kesampaian sekarang.

Ini adalah hadiah yang saya dapatkan dari panitia ADHOC (semacam KPU di sekolah saya) karena pertanyaan saya dibacakan dalam diskusi terbuka calon Ketua OSIS- MPK beberapa waktu lalu.
Saya mendapatkannya dari salah satu panitia pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 
(tepat 10 hari sebelum ulang tahun saya yang ke 16). 










Benda- benda yang saya dapatkan tersebut membuat saya bingung. Bingung harus berperasaan bagaimana.
Campur aduk antara senang, bangga, juga malu.
Mengapa demikian?
Yang pertama, senang : Karena pertanyaan saya dibacakan di antara semua pertanyaan yang terpilih
Yang kedua, bangga : Karena saya merasa kontribusi saya dihargai dan itu menandakan bahwa saya peduli dengan kemajuan yang akan para calon pemimpin itu buat dengan kerjasamanya bersama Smalane yang lain.
Yang ketiga, malu : Karena saya merasa belum pernah memberikan 'hadiah' kepada Smala, tapi kenapa Smala sudah memberikan 'hadiah'nya terlebih dulu, sebelum saya berpikiran untuk mendapatkannya?