"Apabila kita takut akan sesuatu, maka, rasa takut kita melebihi apa yang kita takutkan sesungguhnya..."
Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2011

Jigeumpuuuun, So Nyeoh Shi Dae!

Ini bukan cerita mengenai profil atau liputan mengenai ketenaran mereka. Tetapi aku akan membahas mereka dari sisi yang aku kagumi. 
Mungkin, kalian pernah membaca di blog lain bagaimana Taeyeon menangis karena staff managemen mereka duduk di bawah sedangkan mereka makan dan duduk di atas, atau mungkin kelembutan hati Seohyun yang sangat polos dan lugu.
Aku tidak akan melanjutkan pembahasan itu. Aku hanya ingin meyakinkan bahwa mereka adalah sosok perempuan tangguh yang hebat dan layak dikagumi. Mereka telah melewati pertarungan lahir dan batin selama kurang lebih 11 tahun (termasuk masa trainee terlama), untuk menjadi seperti saat ini. Terlepas dari rumor mengenai operasi plastik atau bagaimanapun yang membuat mereka memiliki anti-fans.
Aku baru saja mengakui jika aku mengagumi mereka, belum setahun bahkan. Namun, di waktu yang sesingkat itu, kecintaanku terhadap mereka semakin bertambah :)
Aku suka mengoleksi foto- foto mereka, terutama saat tahun 2007, awal mereka debut.
Mereka sangat alami di usianya yang rata- rata 17 tahun. Kecantikannya, keanggunannya, mengagumkan.
Entah kenapa, jujur, aku lebih suka melihat wajar mereka dulu, daripada sekarang (kecuali Sooyoung).
Yakinlah eonni, tanpa kalian merubah satupun segi fisik kalian. Kalian tetap mempesona para SONE. 
Dan kami akan selalu mendukungmu :)
















Minggu, 18 Desember 2011

Hadiah?

Sebenarnya saya sudah bermaksud memposting ini sejak lama, tapi baru kesampaian sekarang.

Ini adalah hadiah yang saya dapatkan dari panitia ADHOC (semacam KPU di sekolah saya) karena pertanyaan saya dibacakan dalam diskusi terbuka calon Ketua OSIS- MPK beberapa waktu lalu.
Saya mendapatkannya dari salah satu panitia pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 
(tepat 10 hari sebelum ulang tahun saya yang ke 16). 










Benda- benda yang saya dapatkan tersebut membuat saya bingung. Bingung harus berperasaan bagaimana.
Campur aduk antara senang, bangga, juga malu.
Mengapa demikian?
Yang pertama, senang : Karena pertanyaan saya dibacakan di antara semua pertanyaan yang terpilih
Yang kedua, bangga : Karena saya merasa kontribusi saya dihargai dan itu menandakan bahwa saya peduli dengan kemajuan yang akan para calon pemimpin itu buat dengan kerjasamanya bersama Smalane yang lain.
Yang ketiga, malu : Karena saya merasa belum pernah memberikan 'hadiah' kepada Smala, tapi kenapa Smala sudah memberikan 'hadiah'nya terlebih dulu, sebelum saya berpikiran untuk mendapatkannya?



Sabtu, 08 Oktober 2011

Puas?

Tenang saja,
Aku bukan Oh Ha Ni yang rela
menunggu Baek Seung Jo mencintainya
selama 4 tahun.
Atau Nam, yang dengan setia
mengharapkan Shone
selama 12 tahun.

Ini bukan cinta mati!
Kau hanya mampu membiusku
sekejap waktu.

Kalau kau sangka
Aku akan terus mengemis perhatianmu,
Itu salah!
Silahkan saja kau tunduk
pada celotehan kekasihmu itu.

Aku? Jangan harap akan memperdulikanmu!
Siapa pula yang sudi menanti,
kalau aku bisa menemukan yang lebih baik darimu!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Cantik, Bukan yang Utama




Mungkin anda bertanya- tanya, siapakah perempuan yang tercapture dalam foto di atas. Anda juga pasti tidak akan mengira bagaimana respon saya ketika mengetahui siapa sebenarnya perempuan berkulit hitam tersebut.

Siapa sangka, bahwa perempuan itu ialah Miss Universe 2011 Leila Lopes, yang berasal dari Angola.

Sebelum saya melihat bagaimana raut muka dari pemenang kontes ratu sejagat tahun ini, saya telah mendengar desas- desus dari pengguna twitter (yang kebanyakan teman sekolah saya) mengatakan bahwa Miss Universe tahun ini berasal dari ras kulit hitam!

Kaget? Pastinya!
Bahkan saya sempat mengetweet saat melihat foto tersebut pertama kali 
"Ternyata Miss Universe yang baru tidak lebih cantik dari saya."

Pada tahun- tahun sebelumnya, para wanita berkulit hitam (menurut berita yang saya dengar) acapkali mendapat diskriminasi pada saat masa karantina. Jangankan mereka, wanita- wanita Asia pun sering dipandang sebelah mata.

Lalu? Bagaimana Leila bisa membuktikan bahwa dirinyalah yang tercantik tahun ini?

Berdasar dari berbagai sumber yang saya baca, keunggulan dari Leila Lopes adalah kepercayaan dirinya.
Ia pernah menjawab saat ada pihak yang mewawancarainya, bahwa ia sangat percaya diri akan menjadi pemenang karena senyumnya yang menawan.

Senyum saja? Tentu tidak!
Di Indonesia saja, semua kontes kecantikan tingkat nasional selalu mneggembar- gemborkan Brain, Beauty, Behaviour. Jadi, ada benang merah dari ketiga kategori tersebut.

Menurut saya, apabila seorang wanita itu pandai, maka, ia akan mampu membuat dirinya cantik dan bertingkah laku baik di hadapan semua orang. Dan apabila ia dapat menata sikapnya, maka ia dapat terlihat berpendidikan dan cantik. Jadi, cobalah pikir, apakah cantik saja cukup untuk dijadikan alasan?

Bukankah cantik itu hanya nilai tambah yang dianugerahkan Tuhan agar kita menjaganya dan memeliharanya?
Dna ingatlah, itu hanya bonus semata! ;)

Senin, 26 September 2011

Besar Pasak daripada Tiang

Entah kenapa akhir- akhir ini boroooos banget. Dan nafsu makan ini begitu sulit dikendalikan. Misalnya ya, sudah bawa bekal banyak buat 2 kali istirahat, tapi pas istirahat pertama itu selalu beli dagangannya Rendezvous.

Dan itu selalu pake ongkos buat pulang pergi angkot. Dan uang saku buat jajan sendiri itu selalu kepake buat keperluan lain.

Sueer deh! Uang di dompet itu keluaaaar mulu, gapernah ada yang bertahan lama!

Barusan aja di isi kan pas lebaran? Sekarang udah abis aja gitu.
Betteeeee!

Belum beli printer, belum beli buku Campbell. Belum juga ntar keperluan gak terduga lainnya.

Padahal pengen nonton konsernya 2PM sama Westlife :(

BETTEEEEEEEEEEEK!

Rabu, 31 Agustus 2011

Nothing Special, So Bored.

Ramadhan dan Syawal tahun ini terasa beda banget buat aku. Sangat- sangat biasa lebih tepatnya.
Kalau tahun lalu ada kegiatan Ramadhan di mana aku jadi pesertanya, tahun ini jadi panitia itu sama sekali gak seru!
Meskipun, yah, pondok pesantren kilat di Lawang kapan hari itu menyenangkan, tapi unmemorable :(
Dan aku gak pergi ke mana- mana tahun ini, selain belanja jajan di Giant sekali doang.
Suwumpah, flat poll!
Yah, aku sangat futur Ramahan ini, gak terasa ada peningkatan keimanan.
Dan juga gak bisa khatam Al- Qur'an :(

Yah, aku cuma berdoa ini bukan Ramadhan dan Syawal yang terakhir buat aku.

AnywayTaqabalallahu minna wa minkum yaaaa!   :*   ({})

Gak Malu Dikatain Gini? ;))

"Kalau orang lain saja sudah bisa mendarat di bulan,
Kenapa rakyat Indonesia masih ribut
mengintip bulan?"




*dikutip dari Topik Petang ANTV edisi Selasa, 30 Agustus 2011
karena pembahasan Rukyatul Hilal :)

Kamis, 18 Agustus 2011

Awal Sebuah Keputus asaan

Maaf ya, lagi galau. Bawaannya pengen curhat aja. Dan sulit banget mengendalikan temper.

Kalau orang lain berpendapat bahwa mindsetku absurd atau cenderung nggak objektif menilai sesuatu, aku punya alasan sendiri untuk menyangkal. Setiap orang pasti memiliki perbedaan dibanding lainnya. Mereka juga pasti punya alasan mengapa memilih untuk menapaki perbedaan itu.

Berawal dari kelas X, dalam suatu organisasi -maaf, semua merk disensor pada artikel ini- aku dipercaya sebagai anggota dari salah satu divisi yang sebenarnya nggak aku kehendaki. Jauh! Melenceng dari ekspektasiku yang tadinya akan menemukan orang- orang baru di mana aku bisa berbagi ilmu dan bisa membimbingku.

Tapi ternyata? Kenyataanya berbalik 180 derajat! Aku satu- satunya anggota yang saat itu masih kelas X di divisi itu. Nggak punya teman, dan nggak kenal akrab dengan anggota lain. Mau bicara sama siapa coba?

Akhirnya ya pasrah. Mencoba jalani dengan ikhlas. Tapi rencana itu seperti debu, yang berhamburan seketika ditiup. Kepercayaanku mulai luntur. Aku merasa berada pada tempat yang salah. Sejak saat itu aku berpikir, betapa mudahnya mereka aku kelabui dengan kemampuan bicaraku yang masih cetek ini...

Begitu juga dengan organisasi satunya. Menjadi 'kaum marjinal' dia antara mereka yang 'berkuasa' itu berasa seperti kerbau dicocok hidung! Alih- alih pemimpin, tapi nyatanya? Pemimpin adalah pelayan. Daaaaan... Pelayan sekali ya memang. Tapi masih merasa dihargai sih, lambat laun aku sedikit bisa menyetir mereka yang useless itu.

Masalah hati? Oh, jangan ditanya! Sudah muak merasa dipandang sebelah mata oleh dia yang aku kagumi. Dan terulang kembali dengan orang yang beda. Parahnya, kasus baru ini mengalami komplikasi yang lebih fatal. Berusaha mengabaikan? Wah, sering sekali! Hasilnya? NIHIL!

Masalah pelajaran? Mulai dari kelas X aku sudah teramat sangat keteteran di sana sini. Sudah kapasitas otak pas- pasan, pealajaran susah, gurunya njengkelin pula. Lengkap sudah penderitaan ini...

Dan di saat aku mencoba untuk bangkit, menyetarakan kedudukan dengan mereka yang bermulut manis tapi nggak pernah mau tahu usaha orang kecil, keberuntungan dan kesempatan gak pernah berpihak padaku. Naas. Kenapa nggak sekalian tewas aja ya kayak yang di berita- berita? Ha ha ha *tertawa miris*

Aku mulai jenuh dengan nasib, dan betapa keberpihakan dunia pada orang yang aku sebutkan di atas. Muak! Mendangkalkan sungai nurani, dan menggerus dinding keikhlasan! Kalau seperti ini terus, apa gunanya pergi dari zona nyaman?

Senin, 15 Agustus 2011

Amanah (?)

"Jangan lupa, kamu sudah kelas XI,
Dijaga adek- adeknya,
Adek Joer-V, adek gen, sama adek- adek Biramanya juga..."

"......."

"Trus, jangan lupa ikut LDK..."

"Gak ada orientasi mbak..."

"Emang kalau ikut LDK harus punya orientasi?"

"......."

Rabu, 03 Agustus 2011

Istilah - Ilmiah


Tentang hati :
Aku belum paham benar mengapa organ tubuh satu ini dikaitkan dengan cinta dan rasa. Apabila dilihat dari fungsi biologisnya, hati merupakan penawar racun yang mengubah Hidrogen Peroksida menjadi  Hidrogen dan Oksigen agar tak merusak sistem metabolisme kita. Apa iya, organ yang juga menghasilkan bilirubin dan biliverdin ini dapat patah karena cinta? Dan dimanakah letak ‘hati’ yang sesungguhnya?

Tentang rasa :
Dari 4 rasa yang dapat merangsang papilla di lidah, seharusnya bukan hati yang dapat merasakannya. Aku juga tak tahu, dari mana rasa suka dan benci itu muncul. Dunia memang aneh. Mana mungkin kita dapat menilai kelezatan suatu masakan melalui organ yang dapat ditransplantasikan? Padahal kan lidah sudah terlebih dulu mengecapnya sebelum makanan mendapat gerakan peristaltik hingga sampai di kantung yang letaknya berseberangan dengan hati.

Tentang cinta :
Banyak orang berkata, bahwa cinta adalah saat kamu memberi tanpa mengharapkan akan menerima. Atau ada lagi ungkapan yang mengatakan bahwa cinta adalah anak keturunan kecocokan jiwa, dan tidak datang dari persahabatan yang lama dan hubungan akrab. Dan masih banyak lagi  penafsiran mengenai cinta yang tidak mungkin aku sebutkan satu per satu. Apa cinta juka termasuk rasa? Lalu, bagaimana dengan hati, apakah ia sanggup mengemulsi cinta seperti halnya ia mengemulsi lemak?

Entah, mungkin sampai kapanpun, kalau kita mencoba menghubungkan antara istilah dan ilmiah, tidak akan ada habisnya. Dan jelas, tidak ada yang dapat tersambung meskipun kita telah meluncurkan satelit termutakhir yang bahkan dapat menghubungkan sinyal dari palung Mariana dengan puncak gunung Everest.

Senin, 25 Juli 2011

Do you feel the same?

I miss the Arek SET not the Anak SET

Krik

"Kamu itu sebenernya baik, kurang dipoles dikiiiiit aja. 
Kurangi cerewetnya.
 .....
Tapi, suatu saat nanti, bakal ada cowok yang suka kamu,
karena dia kangen sama cerewetnya kamu..."



ergh

Senin, 11 Juli 2011

Yippie :D


Peraturannya :
1. Setiap orang yang ditag harus juga mem-posting tentang 10 hal mengenai diri mereka masing-masing;
2. Harus memilih 5 orang yang akan ditag;
3. Kunjungi blog mereka dan beritahu mereka kalau mereka sudah ditag oleh kita;
4. Jangan tag balik atau jangan tag orang yang sudah memberikan postingan ini sebelumnya kepada kamu;
5. Selamat mem-posting!

Makasih ya mbaaak Nita

10 hal yang menggambarkan aku :
1. Menunggu adalah hal yang paling aku benci. Buete banget kalo ada orang yang ngaret. Misal : janjian jam 8, aku dateng jam 7.50, dia dateng jam 8.15. Dulu waktu SD pernah nangis gara-gara ibu telat jemput sekolah. Aku pulang jam 2.45, ibu baru ada jam 4!
 
2. Gampang banget dibuat galau. Epek melankolis kali ya? Sampe lupa siapa aja yang pernah bikin aku nangis gara- gara galau -__-"
 
3. Love writing so much! Makasih buat mbak Lia, guru lesku pas SD, yang udah memperkenalkan aku pada dunia korespondensi. :) 
 
4. Bermasalah dengan kulit. Yang pas TK satu muka penuh sama bekas gigtan nyamuk lah. Ada bekas luka di kaki gara- gara kecelakaan lah. Bahkan di SMA ini, aku jadi yang paling item di antara #AsetSmala! T.T
 
5. Gak suka dibilang neges. Lebih baik sarentetan cacian macam : judes, jutek, otoriter, egois, temperamental, cerewet, dan keras kepala. Daripada sekadar kata NEGES!
 
6. Kebiasaan pake fashion item yang warnanya sama dari ujung kepala sampe ujung kaki gara- gara dibiasain dari bayi. Misal : Topi pink, dress pink, sepatu pink.
 
7. Paling cerewet dalam hal kemauan. Misal : Pengen celana model gini, warna ini. Entah gimanapun caranya, gak peduli mahal atau ukuran susah, pokoknya musti dapet. Meskipun harus muterin seluruh outlet di mall.
 
8. Suka banget ngejailin temen yang gampang pasrah. Asyik banget! Aku suka menindas. Hahahaha #evilliaughs.
 
9. Susah banget menjaga cara bicara. Ada yang bilang kasar lah, ember bocor lah, gak sopan lah. Whatever guys! I'm amazing, just the way I am *kibasin jilbab
 
10. Merasa dilahirkan sebagai seorang bintang, dan diperhatikan oleh seluruh dunia saat muncul ke hadapan publik. Muahahaha :p

Dan 5 orang beruntung selanjutnya adalaaaaah :

 

THIS!

"Ngapain kamu susah- susah usaha buat putih itu?
Sekarang lo sudah banyak cewek yang putih.
Justru yang dicari itu yang item,
yang paling beda di antara yang sama..."

- Uti Mah




Jumat, 03 Juni 2011

Malam Random

Entah kenapa malem gini aku pengen curcol lewat blog. Jarang banget aku nulis tanpa tema. Hmmm. Mungkin penyebabnya karena peristiwa tadi siang. Aku merengek ke Astrid untuk cepat- cepat pulang dan keluar dari kantin sekolah. Ada hawa- hawa 'mendung' di sana. 

Percakapan yang harusnya aku sambut dengan antusias - karena jarang sekali terjadi - malah membuat aku salah tingkah dan bingung menyembunyikannya. Malu. Aku sudah berjanji tidak akan menulis tentang laki- laki itu lagi. Oke, kini kita melihat dari sudutku. Bagaimana aku bisa menjalani hidupku tanpa mengharapkan dia lagi.

Apalagi ditambah hebohnya Aset Boys yang membuatku geregetan dan mangkel. Sudahlah, aku bosan terlalu frontal akan kegalauanku. Toh, aku membuat blog ini untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan hobi menulisku. Aku ingin memperdalam hobi ini ke dalam dunia sastra, tapi secara otodidak. Aku gak mungkin mengecewakan harapan satu- satunya di keluarga besarku untuk jadi dokter. 

Sudahlah, ini sudah terlalu larut hingga pembicaraanku seliweran dan nggelambyar ke mana- mana. Padahal tadinya aku berniat posting tentang Mario Maurer. Kapan- kapan saja ya, kalau mood dan jiwa menulisku sudah kembali :D
See ya :*

Selasa, 31 Mei 2011

Konyol!!!

Senin, 30 Mei 2011. Hari ke-3 UAS semester genap. Entah kenapa aku menjadi begitu blank memikirkan mata pelajaran fisika. Sampai- sampai aku tidak mengecek barang- barang yang harus aku bawa hari itu. Dan hasilnya, LKS fisika yang seharusnya dikumpulkan untuk tambahan nilai, aku tinggalkan.
Sejak sebelum masuk ruangan, pikiranku menjadi kacau karena terpikirkan nasib LKSku. Dan karena hawa bad mood telah melanda sejak awal, pertanda seharian itu akan balak! 

Benar ternyata, kesialanku yang kedua bermula saat aku kekurangan waktu mengerjakan 35 butir soal pilihan ganda dan 5 soal uraian fisika. Di romawi II saja, aku baru menyelesaikan cara tinjau loop! Mangkel banget!

Kemudian, aku mengambil keputusan untuk pulang ke rumah setelah jam ujian usai. Ini aku lakukan demi tugas LKSku yang tertinggal. Aku sudah berpamitan ke ketua kelasku untuk tidak mengumpulkan tugas sebelum aku tiba kembali di sekolah. Aku membutuhkan waktu 1 jam untuk bolak- balik dari rumah ke sekolah. 

Dan sial lagi, bemo yang aku tumpangi kembali ke sekolah memakan waktu yang lebih lama. Ini karena aku mengambil jalan tempuh yang lebih panjang dari biasa. Sudah sopirnya orang Madura, ngobrol sama temannya pake ngotot- ngotot segala. Uuuuuuugh! Bete!

Di depan gerbang sekolah, aku bertemu dengan ibunda dari Arial! 
(Lumayan, pelipur lara, bertemu dengan calon mama mertua :D )
Beliau menitipkan pesan kepada saya untuk mencari putranya karena hand phonenya tidak bisa dihubungi. Dasar! Dia pasti sedang di kantin, mengejar perempuan pujaannya.
Auuuuuuw, atiiiiit >.<

Setelah undur diri, aku bergegas menuju pendopo besar, tempat Aset Smala lainnya berkumpul. Aku menggos- menggos. Kemudian aku berteriak- teriak di depan ketua kelasku uhtuk memohon ia mengumpulkan tugasku ke ruang guru. Dan ternyata, tugas temanku yang lain, sudah dia kumpulkan sebelum aku tiba. FUFUFUFU!

Dan yang paling parah di antara semuanya :
"Lho, ini sudah ada nilainya. Ini juga. Terus kamu ngapain ngumpulin?!"

WHAT THE HELL, AZIIZ!!!

Konyol banget kan? Aku bela- belain ke sekolah hanya demi tugas yang ternyata sudah dinilai dan gak perlu dikumpulkan! Sudah capek, keringetan, menghilangkan kesempatan istirahat di rumah, juga melewatkan kesempatan menyampaikan pesan mama mertua dan bertemu Arial. GRROOARRRRR!

Lak ya bete seh guys!!!

Akhirnya dengan langkah gontai, aku mengumpulkan sendiri tugas itu di ruang guru. Kebetulan, di sana ada tumpukan tugasnya kelasku, tanpa kau harus nanya ke guru lain d mana letak meja guru balak satu itu ~.~"





Minggu, 22 Mei 2011

Holiday to Bandung - When It Started

Hello! This is my post since the lattest 'galauing' about someone. Haha, never mind!

I wanna tell you my first experience go to Bandung at Weisak holiday (14- 17 May2011). I've planned it a long time ago. Since the New Year Eve of 2011. And I feel so excited when my mom told me about this plan. Because in my mind, I imagine that I will go home from Bandung with many plastic bags contains of many fashion items in my hand. Hahaha XD
 
And the 'cuti bersama' letter from the Government for 16 May, make my holiday soooooooooo relaxing and unforgettable! Muahahahahah! I love it :p

But something error occur for my holiday. The delayed schedule for arriving and the very looooong journey inside the bus. Fufufufufufu. It so annoying. But the places I visited make me feel satisfied enough. Yaaa ~.~

The first day I was there, my life was fulfilling with many shopping schedule. Muahahahah!
from Pasar Baru, Cihampelas street, R.E. Martadinata street, until Paris van Java mall.
WHOOOOOAAAAAHHH!
Many things I wanna bought there. But my mom didn't allowed me -3-

And unfortunately, the fashion item that I wanted, doesn't have their tenant/ outlet in Surabaya.
FUFUFUFUFUFUFUUFUFUFU! -,,-


Minggu, 10 April 2011

The Real Kemendas!

Hari ini, banyak banget pengalaman gak mengenakkan yang aku dapat. Dan masalah ini salah satunya...

Aku paling gak suka dibilang orang lain menthus atau neges. Karena memang aku gak merasa sikapku seperti itu. Aku lebih merasa dihargai kalo dibilang cerewet, judes, jutek, ngamukan (temperamental), egois, otoriter, dan manja. Jujur iya banget. Aku lebih merasa senang dicap dengan serangakaian kata di atas daripada dibilang dua kata, tapi gak mencerminkan aku ; NEGES dan KEMENDAS!
Dan karena peristiwa yang aku alamin tadi pagi, aku mau protes atas pelabelanku demikian! Ya, ada yang lebih kemendas dari aku! 

Dialah seorang perempuan yang bernama Tri Aria Sari. Yang tak lain dan tak bukan adalah tanteku.

Jadi, tadi pagi itu, aku 'dipaksa' oleh ibuku untuk mengikuti kemauannya untuk ikut ke rumah tante saya yang di Sidoarjo. Kenapa aku bilang 'dipaksa'? Soalnya aku emang gak sepenuh hati buat ikut. Aku ada acara sendiri, yaitu kerja kelompok di rumah temenku yang tertunda kemarin. 
Ibuku pengen ke sana dengan menggunakan fasilitas umum komuter. Murah meriah alasannya. Jadi, sekitar pukul 08.00 WIB, kami pergi ke stasiun Gubeng. Awalnya perasaanku sudah agak gak enak. Soalnya, tanteku itu bilang, dia kalo naik komuter di hari lain, jam setengah 8 sudah ada di stasiun. Tapi ibuku meyakinkan kalo kami gak terlambat. Karena aku sendiri juga tahu, kalo komuter itu dari stasiun Gubeng, trus ke stasiun Semut, dan kembali lagi ke Gubeng. Baru deh, capcus ke Sidoarjo.

Tapi anehnya, waktu aku barusan nyampe di stasiun, sudah ada pemberitahuan kalo komuter itu akan diberangkatkan. Ibuku tetep aja keukeuh! Dan yakiiiiiiiiiin banget kalo gak ada masalah.

Setelah tanteku tiba di stasiun, kami langsung masuk ke dalam. Beli tiket dulu pastinya. Gak salah ibuku ngotot. Orang tiketnya cuma Rp 2.000,00 per orang.

Kami masuk, setelah menunggu sekitar 5 menit, si komuter pun tiba. Kami buru- buru naik karena takut tidak kebagian tempat. Tapi anehnya, komuter pagi ini sepi! BANGET! Sangat jauh dari perkiraan kami kalau komuter itu kembali dari Semut dan akan capcus ke Sidoarjo.

Dan di dalam komuter, aku mencoba menenangkan diri. Aku makan kue yang tadi sempat aku beli di stasiun Gubeng. Ternyata, komuter ini ke Semut (lagi?) !!!

Waktu kami berhenti di Semut, seluruh penumpang pada turun. Kami bertanya- tanya. Sampai sang masinis sendiri menginformasikannya :

"Lho, bu, mboten mandap?"
"Kok mandap pak? Niki sepure mboten teng Buduran toh?"
"Looooooh, nggih sanes Bu! Niki sepure mbalik teng depo. Mangke bidhal malih jam 11!"

MUUUUHHHHUUUUAAATTTTTTEEEEEEKKKSSSSSS TUDEMEW!!! -___________________-

Rasa mangkel bercampur malu langsung menyergap dan berkecamuk di pikiranku! Ini kalo bukan karena kecerobohan dan ketololan tanteku, gak mungkin sampe kayak gini! Dia dan keluarganya yang sudah membuat aku dan ibuku menunggu di stasiun dan ketinggalan kereta! Dia juga yang langsung menyuruh kami naik kereta padahal gak tau ke mana tujuannya! 

Ini baru yang namanya KEMENDAS itu! Bukan aku yang biasanaya kalian bilang di sekolah, reeek!
Di atasny langit itu masih ada langit! 
Kalian lo men-judge aku seakan- akan aku satu- satunya orang yang paling menthus sedunia dan gak ada yang bisa menyamaiku lagi!
Sakit reeek dibilang kayak gitu itu!

Toh juga ke-menthus-anku itu cuma masalah jawaban soal, bukan hidup mati seseorang kayak tanteku!
Untung ibuku bawa uang lumayan banyak, coba kalo gak ada sepeser uangpun, dan gak ada pulsa tersisa di hape! Bisa apa coba?!

Akhirnya, di tengah keputus asaan kita, bemo lyn D dan lyn Kuning jurusan Porong menjadi penyelamat kami.
Dan omku pun, menjemput kami di depan jalan menuju perumahannya. Yah, meskipun biayanya berkali- klai lipat dari yang dianggarkan kalo naik komuter. Sudahlah. Aku juga masih mangkel!

Senin, 28 Maret 2011

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Ada yang mengusik hati kecil saya untuk berbagi artikel ini kepada para pembaca. Anggap saja ini sebagai bentuk protes saya atas apa yang saya alami kemarin sore. Kesemrawutan lalu lintas, kemacetan, sesak, ramai, gaduh, dan hal- hal yang dapat memancing emosi. Anehnya, saya bukan malah marah atau tersinggung, tapi justru takut. Melihat ribuan orang berjejal di jalanan, mengenakan dress code hijau, dan bertampang urakan sekaligus (menurut saya) tidak berpendidikan.

Terjebak kemacetan mungkin bukan hal yang aneh bagi warga Jakarta. Tapi, jika di Surabaya, terjebak macet selama 30 menit di jalan sepanjang 500 meter, dan bukan jalan protokol, adalah hal yang fantastis! Pengguna jalan lainnya pun hanya bisa pasrah dan mengalah melihat 'konvoi' ini terjadi. Padahal ada ratusan aparat berwenang yang berjajar di situ.

Bagaimana tanggapan mereka? Sebatas yang saya lihat, mereka hanya tersenyum dan petentang- petenteng memamerkan alat keamanan (yang saya tidak ketahui namanya) juga perut jemblung mereka dan mengatas namakan kekuasaan. Suporter kesebelasan ini tidak dapat dibedakan antara si kaya dan si miskin. Kalau dari penampilan, hanya sekitar 50% saja. Tapi dalam hal kedisiplinan dan keteladanan berlalu lintas, mereka sama saja!

Ada sebersit rasa kesal yang menggelayuti pikiran saya saat melihat kejadian tersebut. Tapi karena takut  digoda, saya hanya bisa diam di dalam bemo yang saya tumpangi, dan berusaha mengamankan tas saya, mengantisipasi hal terburuk yang dapat saya alami. Mereka berjalan bersama- sama melawan arus, menyeberang jalan bukan pada tempatnya (di depan kendaraan yang terjebak macet), dan menggoda pengguna jalan yang berjilbab dengan mengucapkan salam.

Sebelum saya pulang, salah seorang kakak kelas saya yang membesarkan hati saya dengan berkata "Tenang, Mereka cinta damai kok dek..." Dan saya hanya menjawab sambil tersenyum kecut "Kalau orangnya seperti Mas semua, Saya baru percaya."

Saya cukup miris dengan kata- kata atau slogan yang terpampang di depan stadion melihat 'fenomena' ini.

Tunjukkan rek...
Arek Suroboyo adalah suporter yang bermartabat,
Berbuat anarki sama dengan mencoreng muka sendiri!

Lantas, siapa yang kini dikambing hitamkan dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini? Aparatkah? Para suporter itu sendiri? Atau justru pengguna jalan yang melewati area tersebut? Dan percayakah anda semua, jika slogan itu dapat terwujud? Mungkin... Tapi  itu, suatu saat nanti.... Wallahu 'allam bisshawwab :)

Senin, 07 Maret 2011

Tinta Putih

Entah apa yang ada dalam benak mereka...
Niatan tulus untuk membenarkan kita kah?
Atau justru menjerumuskan kita di jalan yang salah?

Tinta putih itu mencemari genangan air hujan...
Tinta putih itu menjadikan sekelilingku keruh...
Tinta putih itu berusaha meluruskan kami,
namun ia telah memunculkan bibit perpecahan di antara kita...

Andai saja mereka mengetahui sejak awal,
Pasti mereka mampu menetralisir tetesan tinta itu...
Aku takut, mereka tak dapat memandangi refleksi diri mereka,
Seperti halnya aku, yang kini bingung menentukan peganganku...

Aku sangat merisaukan keteguhan mereka...
Aku resah akan perubahan yang mereka alami...

Akankah mereka berani melawan tinta itu?
Atau mereka dengan mudahnya,
menyerap tetesan tinta itu tanpa pikir panjang,
atau sebagai fatamorgana tetesan tinta putih di tanah yang kering?

Akankah mereka menyadarinya?
Akankah mereka mampu membatasi dirinya?
Akankah mereka berhasil melumpuhkan sepak terjang tinta putih itu?

Tuhan, betapapun seringnya kami melalaikanmu,
Kuharap kau masih bersedia menuntun kami,
Dan menyertai kami ke manapun kami menjejakkan kaki...